News
Wali Nanggroe Aceh: Tragedi Arakundo, Pelajaran Kemanusiaan dan Perdamaian
14 Februari 2026 20:16
Kabag Kerjasama dan Humas Wali Nanggroe, Zulfikar Idris menyebut, kegiatan itu dihadiri unsur ulama, Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi (KKR) Aceh, pejabat pemerintah, keluarga korban, tokoh masyarakat, mahasiswa, dan generasi muda.
Wali Nanggroe Aceh Paduka Yang Mulia Tgk. Malik Mahmud Al Haythar dalam penyampaiannya menegaskan, peringatan tragedi bukan sekadar agenda seremonial, melainkan momentum moral untuk merawat ingatan, memperjuangkan kebenaran, dan memperkuat komitmen kemanusiaan di Aceh.
Pelajaran dari Tragedi Arakundo
- 3 Februari 1999: Tragedi Idi Cut–Arakundoe, Kabupaten Aceh Timur, mencederai nilai-nilai kemanusiaan.
- Korban jiwa: Warga sipil dan dugaan pelanggaran kemanusiaan.
- Kebenaran dan keadilan: Proses penting untuk pemulihan dan rekonsiliasi.
- Perdamaian Aceh: Hasil kompromi politik dan amanah sejarah.
Peningkatan Keseimbangan Alam
- Bencana banjir dan tanah longsor: Peringatan penting tentang amanah menjaga keseimbangan alam.
- Konservasi hutan: Penting untuk pembangunan berbasis keberlanjutan dan keadilan ekologis.
Amanah Perdamaian
- Nota Kesepahaman Helsinki: Fondasi utama berakhirnya konflik bersenjata.
- Penguatan institusi sipil: Penghormatan hak asasi manusia dan penyelesaian persoalan korban konflik.
- Kebijakan publik: Perdamaian harus tercermin dalam kebijakan publik dan perilaku sosial.
Pesan untuk Generasi Muda
- Penjaga kemanusiaan: Generasi muda diminta menjadi pelanjut perdamaian.
- Kebencian: Jangan mewarisi kebencian, melainkan nilai keadilan dan kemanusiaan.
Peringatan ditutup dengan pembacaan Surah Al-Fatihah dan komitmen bersama peserta untuk terus merawat perdamaian, menjaga kemanusiaan, serta mendorong pemenuhan keadilan bagi korban pelanggaran kemanusiaan di Aceh.
