News
Pendopo Bupati Aceh Tenggara Hilang Desain Khas Alas, Warga Khawatir
10 Februari 2026 14:04
Usai Direhab, Pendopo Bupati Agara Kehilangan Desain Khas Alas
Itu Pendopo Bupati Aceh Tenggara setelah direhabilitasi. Sekilas, modern dan elegan. Namun, bagi banyak warga, keindahan itu terasa hampa.
“Seperti kehilangan jati diri,” ujar seorang tokoh masyarakat Alas, yang meminta namanya tidak dipublikasikan.
Pendopo sebagai Simbol Identitas Budaya
Baginya, pendopo seharusnya lebih dari sekadar gedung. Ia adalah simbol otoritas, sekaligus cerminan identitas budaya Alas, masyarakat yang sejak ratusan tahun menempati Bumi Sepakat Segenap.
Selama ini, arsitektur Aceh Tenggara dikenal kaya simbol dan filosofi. Ruang pendopo biasanya memuat nilai-nilai adat: bentuk atap yang meruncing menandakan keberanian, ornamen kayu mengisyaratkan persatuan, dan ruang terbuka di tengah mencerminkan keterbukaan terhadap tamu.
Semua elemen itu bercerita. Namun, versi baru pendopo dengan dominasi warna putih dan garis lurus minimalis—nyaris tidak menyisakan jejak budaya.
Reaksi Warga dan Pemerintah
Thalib Akbar, mantan Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Aceh Tenggara, menegaskan, Qanun Aceh Nomor 8 Tahun 2008 menuntut setiap pembangunan strategis memperhatikan pelestarian ornamen adat.
“Pendopo adalah wajah daerah. Bagaimana tamu luar bisa membaca identitas kita jika simbol adat tidak ada?” katanya.
Ketua MAA Aceh Tenggara, Kasri Selian, menjelaskan pemerintah berencana menambahkan ornamen khas Aceh Tenggara di tahap berikutnya.
“Ciri khas adat tidak hilang, hanya sementara. Nanti akan dibuat kembali di bagian lain pendopo,” kata Kasri singkat.
Namun, rencana itu belum memberikan ketenangan bagi warga. Banyak yang menilai pembangunan ini terlalu cepat, dengan anggaran Rp2,4 miliar dari Dana Alokasi Umum (DAU) 2025.
Padahal kondisi gedung lama masih layak. Apalagi, papan informasi proyek tidak mencantumkan pengawas pelaksana, menimbulkan pertanyaan publik soal transparansi.
Pendopo sebagai Narasi Kolektif
Bagi warga Alas, pendopo bukan sekadar bangunan fisik. Ia adalah narasi kolektif, tempat adat, sejarah, dan kebanggaan masyarakat tertulis dalam setiap ukiran kayu, bentuk atap, dan ruang terbuka.
Itu sebab, kehilangan ornamen khas seakan memutus hubungan generasi sekarang dengan akar budaya mereka.
“Sejarah dan identitas kita itu terlihat di pendopo. Tamu yang datang bisa langsung tahu siapa kita, nilai apa yang kita junjung. Kalau hilang, kita hanya punya gedung kosong,” kata seorang guru sejarah di Aceh Tenggara.
Kini, Pendopo Bupati Aceh Tenggara berdiri sebagai simbol dualitas: modernitas versus tradisi. Bersih, geometris, dan rapi di mata arsitek modern; kosong dan asing di mata masyarakat lokal.
Di sinilah tantangan pemerintah daerah tentang, bagaimana membangun tanpa menghapus memori kolektif, modern tanpa menelan sejarah, dan bersih tanpa menghapus identitas.
Seiring proyek lanjutan ornamen adat direncanakan, warga berharap, warna putih yang mendominasi itu bukan sekadar kanvas kosong. Melainkan panggung untuk kembali menulis cerita mereka, cerita masyarakat Alas yang bangga akan sejarah, budaya, dan identitasnya.
