Kembaliekonomi

Petani Nilam Aceh Timur Jadi Buruh Angkut Usai Banjir Bandang

Penulis

serambinews.com

Tanggal

22 Apr 2026

Petani Nilam Aceh Timur Jadi Buruh Angkut Usai Banjir Bandang

Junaidi (51), petani nilam di Simpang Jernih, Aceh Timur, kini bekerja sebagai buruh angkut setelah banjir bandang menghancurkan lahan dan usahanya. Ia kehilangan mesin penyulingan minyak nilam dan lahan pertanian, memaksanya mencari pekerjaan serabutan untuk bertahan hidup.

Banjir bandang pada akhir November 2025 mengubah kehidupan Junaidi. Rumahnya hancur, mesin katelnya rusak, dan lahan nilamnya terkubur lumpur. Kini, ia mengangkut material bangunan dengan becak motor untuk mendapatkan upah Rp20.000 per rit.

Dampak Banjir Bandang

  • Lahan nilam seluas 4.000 meter persegi terkubur lumpur dan material kayu.
  • Mesin penyulingan minyak nilam senilai Rp20 juta rusak.
  • Rumah hancur, memaksa Junaidi mencari pekerjaan serabutan.

Kehidupan Setelah Banjir

  • Upah sehari Rp60.000 dari mengangkut material bangunan.
  • Mencari ikan dan sayuran liar untuk memenuhi kebutuhan makan.
  • Bantuan pemerintah berupa beras dan minyak dirasa belum cukup.

Harapan Junaidi

  • Pemulihan lahan pertanian yang terdampak bencana.
  • Akses pasar yang adil untuk petani nilam, tanpa permainan harga oleh tengkulak.
  • Pemerintah hadir untuk membantu petani membangun kembali penghidupan mereka.

Junaidi tetap berusaha untuk membuka kembali kebun nilamnya, meskipun memerlukan waktu dan usaha yang lama.

Verifikasi Konten

Baca Artikel di Sumber Asli

Dapatkan informasi lengkap dari kanal terpercaya.

Kunjungi Website

Diskusi Hangat

0 Kontribusi Komunitas

Suara Anda Sangat Berarti

Jadilah pionir dalam diskusi ini.