Konferensi internasional tentang Bencana Alam dan Bencana Buatan Manusia bertajuk International Conference on Natural & Human Disaster 2026, Rethinking Architecture: Disaster Risk Reduction, Resilience & Recovery (DR3) yang digelar sejak 17 April lalu, resmi ditutup di Hermes Palace Hotel, Banda Aceh, Minggu (19/4/2026). Acara ini diinisiasi oleh Organisasi Arsitek Dunia (UIA) melalui program kerja Natural and Human Disasters, bekerja sama dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) dan Arcasia Emergency Architects (AEA), serta didukung Kementerian Ekonomi Kreatif RI.
Selama tiga hari, para peserta membahas strategi arsitektur dalam menghadapi risiko bencana, membangun ketahanan, serta merancang pemulihan pascabencana. Diskusi intensif berlangsung dalam bentuk seminar, lokakarya, hingga kunjungan lapangan ke lokasi yang pernah dilanda tragedi.
Poin Penting dari Konferensi
-
Banda Aceh dipilih sebagai tuan rumah karena pengalaman panjangnya menghadapi bencana besar, sekaligus menjadi simbol ketangguhan masyarakat atau laboratorium hidup ketahanan bencana.
-
Ketua Penyelenggara DR3 Aceh 2026, Aimee Roslan, menyampaikan konferensi ini menjadi ajang solidaritas internasional. Perwakilan dari berbagai organisasi arsitek dunia hadir, termasuk sejumlah universitas di Aceh memberikan dukungan akademis.
-
Poin-poin deklarasi berkaitan dengan pengurangan risiko, ketahanan, dan pemulihan pascabencana telah disepakati.
-
Kekaguman terhadap masyarakat Aceh yang antusias menyambut para pakar baik nasional maupun internasional untuk bertukar pikiran dan transfer pengetahuan terkait arsitektur dan kebencanaan.
-
Co-Director UIA Natural & Human Disasters Work Programme, Yolanda David-Reyes, memberikan apresiasi kepada seluruh peserta dan menekankan komitmen terhadap ketahanan dan pemulihan.
Kegiatan penutupan diakhiri dengan penandatangan deklarasi oleh para pemimpin konferensi dan perwakilan organisasi terkait.
Baca Sumber Asli
Ingin memverifikasi informasi lebih lanjut?

