Wakaf Teungku Anjong merupakan salah satu tradisi keagamaan yang memiliki jejak historis kuat di Aceh. Tanah wakaf yang tersebar di Banda Aceh dan Pidie memiliki potensi ekonomi yang besar, namun pengelolaannya masih belum optimal. Tradisi khanduri thon Teungku Anjong, yang merupakan bentuk penghormatan kepada Teungku Anjong, juga perlu mendapatkan perhatian serius dari pemerintah Aceh.
Teungku Anjong, yang memiliki nama asli Sayid Abu Bakar bin Husein Bilfaqih, dikenal sebagai seorang ulama sufi yang berasal dari Hadramaut, Yaman. Beliau memiliki peran penting dalam menyebarkan ajaran Islam di Aceh dan memiliki banyak murid yang berpengaruh. Mesjid Teungku Anjong, yang didirikan pada pertengahan abad ke-18, juga menjadi saksi sejarah perjuangan kaum muslimin melawan Belanda.
Potensi Ekonomi dan Pengelolaan Wakaf
- Tanah wakaf Teungku Anjong tersebar di dua wilayah administratif di Aceh, yaitu Kota Banda Aceh dan Kabupaten Pidie.
- Di Kota Banda Aceh, tanah wakaf tersebut tersebar di sejumlah gampong, seperti Gampong Peulanggahan, Gampong Merduati, dan Gampong Lampaseh Kota.
- Di Kabupaten Pidie, tanah wakaf Teungku Anjong diperkirakan mencapai 9,7 hektare dan telah berdiri sejumlah bangunan, seperti sekolah, perumahan penduduk, dan perkantoran.
- Jika dikelola dengan profesional dan transparan, potensi wakaf tersebut dapat dikembangkan sebagai wakaf produktif dalam mendukung kesejahteraan umat.
Tradisi Khanduri Thon Teungku Anjong
- Tradisi khanduri thon Teungku Anjong merupakan bentuk penghormatan kepada Teungku Anjong yang telah dilaksanakan oleh para sultan dan ulama terdahulu.
- Pembiayaan pelaksanaan khanduri thon Teungku Anjong telah dipersiapkan oleh para pendahulu melalui wakaf tanah-tanah sawah yang secara khusus diperuntukkan bagi kegiatan tersebut.
- Saat ini, tradisi khanduri thon lebih banyak dilaksanakan oleh komunitas-komunitas tertentu dengan mengandalkan dana swadaya, sehingga pelaksanaannya belum optimal.
Harapan dan Rekomendasi
- Pemerintah Aceh diharapkan memasukkan tradisi khanduri thon Teungku Anjong sebagai agenda resmi daerah.
- Penertiban dan pengelolaan aset wakaf Teungku Anjong perlu dilakukan untuk memastikan bahwa tanah wakaf digunakan sesuai dengan tujuan wakaf tersebut.
- Dengan pengelolaan yang baik, wakaf Teungku Anjong dapat menjadi sumber pendanaan untuk pendidikan, dakwah, dan pelayanan sosial di Aceh.
Baca Artikel di Sumber Asli
Dapatkan informasi lengkap dari kanal terpercaya.
Populer Pekan Ini
Semua BeritaWarga Bireuen Terima 647 Tumpuk Daging Qurban dari USK","PublicImpact":85,"Credibility":80,"Urgency":60,"Evidence":85,"LongTermValue":70,"Education":65,"FinalScore":78,"Summary":"Rumah Amal Masjid Jam
“Iduladha mengajarkan kita tentang makna pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian. Qurban ini merupakan wujud kepedulian keluarga besar USK
Warga Aceh Tamiang merasa lega saat 200 huntap siap Jun 2026
“Kami terus mendorong penyelesaian administrasi agar pembangunan tidak tertunda sambil menunggu legalisasi lahan selesai,” ujarnya.
Warga Aceh Menghadapi Kenaikan Harga Beras dan Tomat, Inflasi 5,12%
BANDA ACEH - Badan Pusat Statistik (BPS) Aceh mencatat Provinsi Aceh mengalami inflasi sebesar 5,12 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu...
Siswa Lhokseumawe Terima 1.500 Paket School Kit PMI Pasca Banjir
PMI Kota Lhokseumawe bergerak cepat untuk membantu memulihkan semangat belajar anak-anak yang terdampak bencana banjir bandang.


Diskusi Hangat
0 Kontribusi Komunitas
Suara Anda Sangat Berarti
Jadilah pionir dalam diskusi ini.