Timeline Aceh
serambinews.com
serambinews.com

Mualem Menangis: Aceh Berjuang di Tengah Banjir dan Keterbatasan Bantuan

2 hari yang lalu

MALAM itu sunyi, tetapi tidak hening. Sekitar pukul 22.10 WIB, Minggu, 7 Desember 2025, layar Narasi TV menampilkan pemandangan yang jarang tersaji di negeri yang penuh retorika dan angka statistik. Seorang lelaki yang selama ini dikenal keras, tegar, dan tahan guncangan, mantan panglima perang yang ditempa puluhan tahun konflik, terdiam lalu terisak. Muzakir Manaf, Mualem, mantan Panglima GAM yang kini memikul amanah sebagai Gubernur Aceh, menangis saat diwawancarai Najwa Shihab. Tangis itu jatuh sebelas hari pasca banjir bandang menyapu Aceh dengan daya rusak yang sulit dijelaskan oleh kata dan data.

Mualem tidak menangis karena dirinya. Ia menangis karena Aceh. Di hadapan kamera, dalam tangis ia berkata lirih: "Kalau berharap pada manusia, kita akan kecewa." Kalimat sederhana, tanpa retorika, tanpa tudingan. Bukan keluhan, melainkan pengakuan iman dan tawakal. Sebuah kesadaran sunyi bahwa pada batas terakhir daya manusia, hanya Allah sebaik-baik tempat bersandar (QS. Ali Imran: 173).

Dampak Banjir di Aceh

  • Hujan turun berhari-hari tanpa jeda, menyebabkan sungai meluap dan menelan rumah, jalan, jembatan, sekolah, puskesmas, ladang, dan kenangan.
  • Lumpur menutup pintu rumah setinggi dada, kampung-kampung terputus dari peta, listrik padam, sinyal lenyap, dan warga terisolasi dalam gelap.
  • Dapur kosong, anak-anak belajar di pengungsian, dan ada yang meregang nyawa bukan hanya oleh derasnya air, tetapi oleh lambatnya bantuan.

Respons dan Solidaritas

  • Bencana ini tidak ditetapkan sebagai bencana nasional, memperlambat bantuan asing dan mempersulit ikhtiar kemanusiaan.
  • Warga Aceh menunjukkan ketahanan dan solidaritas, berbagi dari apa yang nyaris tak tersisa, dan memuliakan tamu yang datang membawa bantuan.
  • Anak-anak muda menggubah lagu sederhana tentang keteguhan iman dan tawakal sang pemimpin, menunjukkan keberanian kolektif.

Hikmah dan Pelajaran

  • Iman dan tawakal menjadi fondasi ketahanan jiwa, keyakinan bahwa Allah Maha Rahman dan Maha Rahim.
  • Sabar dan tawakal harus dihidupkan secara aktif, berserah tanpa berhenti berusaha.
  • Solidaritas dan empati mesti dirawat, sebab menolong sesama adalah ibadah paling nyata (QS. Al-Ma’un).

Tangis Mualem bukan tanda lemah, melainkan penanda iman di batas daya manusia. Ia adalah suara batin Aceh, mewakili dapur yang kosong, ladang yang hilang, anak-anak di pengungsian, dan doa para lansia yang tak bersuara. Dari air mata itu, Aceh mengingatkan bangsa ini: berharap pada manusia sering berujung kecewa, tetapi bersandar kepada Allah melahirkan kekuatan. Saat iman menegak, sabar menebal, dan tawakal memimpin langkah, Aceh, tanah para pejuang dan syuhada, bukan hanya selamat dari bencana, melainkan lulus dari ujian Ilahi, diangkat derajatnya, dan bangkit mengajarkan arti keteguhan, penghambaan, dan harapan yang hidup dari Allah swt.

Mualem Menangis: Aceh Berjuang di Tengah Banjir dan Keterbatasan Bantuan
0123456789