News
Solidaritas Lintas Agama di Aceh Pasca Siklon Senyar 2025: Duka dan Harapan
02 Januari 2026 16:03
Siklon Senyar yang melanda Aceh pada November 2025 tidak hanya membawa bencana alam, tetapi juga menguji solidaritas kemanusiaan lintas agama dan etnis. Berbagai organisasi keagamaan dan sipil bahu-membahu memberikan bantuan tanpa memandang latar belakang korban. Meskipun ada framing negatif di media sosial, Aceh membutuhkan bantuan dan pemulihan yang cepat sebelum Ramadhan.
Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Aceh mendorong agar bencana ini ditetapkan sebagai bencana nasional. Mereka menyoroti bahwa setiap bencana memiliki konteks dan dampak tersendiri, dan membandingkan skala dan penderitaan bencana banjir dan longsor di Aceh adalah tindakan yang tidak etis sesama bangsa Indonesia.
Dampak Bencana
- Banjir bandang dan longsor yang lebih parah dari tsunami tahun 2004, menurut TA Khalid.
- Infrastruktur hancur dan banyak orang yang belum dapat terhubung karena terputusnya jaringan.
- Harga sembako melonjak, gas elpiji yang biasanya Rp20.000 kini tembus Rp100.000, dan beras sebagai bahan makanan pokok melambung pasca bencana.
Solidaritas Kemanusiaan
- NU, Muhammadiyah, gereja-gereja ekumenis, komunitas Katolik, dan organisasi sipil lainnya bahu-membahu mengirim bantuan berupa pakaian baru, obat-obatan, kompor gas, rice cooker, serta perlengkapan sanitasi.
- Gereja-gereja menyalurkan donasi melalui Bimas Kristen, PGI, dan jaringan lokal, termasuk mengirim 3 ton logistik ke daerah terdampak.
- Ibadah Natal secara sederhana dan mengalihkan anggarannya untuk bazar bagi korban banjir, tanpa memandang latar belakang penerima.
Tantangan dan Harapan
- Distribusi bantuan masih menghadapi tantangan karena beberapa wilayah masih terisolir.
- Harga sembako yang melonjak dan infrastruktur yang hancur menjadi ketakutan bagi masyarakat dalam menjalani bulan suci Ramadhan.
- FKUB Aceh mendorong agar aktivis Aceh terus menyuarakan agar bencana banjir Aceh 2025 ditetapkan berstatus bencana nasional.
Di awal tahun 2026, harapan baru muncul dengan uluran bantuan dari masyarakat lintas agama, etnik, dan bangsa. Negara dan warga negara diharapkan menghilangkan sifat-sifat sombong dan iri dalam pergaulan, menciptakan kehidupan sosial yang tanpa sekat.
