News
Keuchik Alue Ie Mirah Ubah Mahar Manyam ke Gram untuk Ringankan Beban Nikah
13 jam yang lalu
Keuchik Gampong Alue Ie Mirah, Romi Syahputra, mengambil langkah berani dengan mewacanakan perubahan satuan mahar emas dari manyam ke gram. Kebijakan ini diambil sebagai respons terhadap melambungnya harga emas murni yang kini mencapai Rp8.000.000 per manyam, yang memicu keresahan bagi generasi muda yang berencana menikah.
Romi Syahputra menegaskan bahwa kebijakan ini bukan bertujuan untuk mengikis adat, melainkan sebagai bentuk adaptasi agar kearifan lokal tetap relevan dengan realitas ekonomi masyarakat saat ini. Peraturan Gampong (Pergam) akan segera diterbitkan untuk melegitimasi kebijakan ini.
Dampak Kebijakan
- Meringankan Beban Ekonomi: Perubahan satuan mahar dari manyam ke gram diharapkan dapat meringankan beban ekonomi bagi generasi muda yang ingin menikah.
- Menjaga Kearifan Lokal: Kebijakan ini diambil untuk menjaga relevansi kearifan lokal dengan kondisi ekonomi saat ini, tanpa bermaksud mengikis nilai adat.
- Respons Terhadap Kenaikan Harga Emas: Harga emas yang melambung menjadi salah satu faktor utama yang mendorong perubahan kebijakan ini.
Tanggapan Masyarakat
- Protes dari Pengusaha Truk: Kebijakan larangan melintas bagi truk tronton di jembatan bailey Krueng Tingkeum, Kuta Blang, Kabupaten Bireuen, memicu gelombang protes dari para pengusaha truk di Aceh yang merasa operasional mereka terhambat.
- Dukungan dari Generasi Muda: Generasi muda di Aceh Timur menyambut positif kebijakan ini, karena diharapkan dapat meringankan beban ekonomi mereka dalam mempersiapkan pernikahan.
Langkah Selanjutnya
- Penerbitan Peraturan Gampong: Keuchik Gampong Alue Ie Mirah akan segera menerbitkan Peraturan Gampong (Pergam) untuk melegitimasi kebijakan perubahan satuan mahar dari manyam ke gram.
- Evaluasi dan Monitoring: Pemerintah Gampong Alue Ie Mirah akan terus memonitor dan mengevaluasi dampak kebijakan ini terhadap masyarakat, khususnya generasi muda yang berencana menikah.
Dengan kebijakan ini, diharapkan dapat menciptakan keseimbangan antara menjaga kearifan lokal dan merespons kondisi ekonomi yang terus berubah.
