News
Diaspora Aceh di Malaysia Salurkan Bantuan Miliaran untuk Bencana di Tanah Air
4 hari yang lalu
Ketika bencana melanda Aceh, diaspora Aceh di Malaysia menunjukkan solidaritas yang luar biasa. Mereka tidak hanya mengumpulkan bantuan logistik dan pakaian senilai miliaran rupiah, tetapi juga memastikan distribusi tepat sasaran ke titik-titik bencana. Tokoh-tokoh seperti Datuk Mansyur bin Usman, Tgk Bukhari Ibrahim, dan Syaiful Bahri alias Bospon memimpin upaya ini, menjadikan komunitas diaspora sebagai pusat logistik besar.
Bantuan ini bukan sekadar bantuan material, tetapi juga simbol persaudaraan yang tak lekang oleh waktu. Ini adalah bukti bahwa meuseuraya--gotong royong khas Aceh--tetap hidup, bahkan di tanah rantau. Mereka menggambarkan bahwa menjadi orang Aceh berarti menjaga satu sama lain, di manapun berada.
Tokoh-tokoh Diaspora Aceh di Malaysia
- Datuk Mansyur bin Usman: Presiden Persatuan Melayu Berketurunan Aceh Malaysia (Permebam) yang menjembatani pengusaha Malaysia untuk menyalurkan bantuan logistik dan pakaian senilai miliaran rupiah.
- Tgk Bukhari Ibrahim: Ketua Sosialisasi Ummah Bansigom Aceh (SUBA) yang menggerakkan donasi warga Aceh di Malaysia, memastikan sembako sampai ke titik-titik bencana.
- Syaiful Bahri alias Bospon: Ketua Sabena di Negeri Sembilan yang mengorganisir ratusan ton bantuan kemanusiaan, menjadikan komunitas diaspora sebagai pusat logistik besar.
- Tgk Mukhtar Abdullah: Relawan dari Pertubuhan Indahnya Sedekah Amal Bangi Malaysia (PISAM) yang membawa bantuan bernilai ratusan juta rupiah dan memastikan distribusi tepat sasaran.
Dampak dan Harapan
Bantuan dari diaspora Aceh di Malaysia tidak hanya membantu meringankan beban korban bencana, tetapi juga menjadi inspirasi bagi seluruh warga Aceh. Ini menunjukkan bahwa persatuan dan gotong royong masih kuat, bahkan di tengah-tengah kesulitan. Harapannya, solidaritas ini tidak hanya hadir saat bencana, tetapi juga menjadi dukungan berkelanjutan untuk pendidikan, ekonomi, dan kesehatan masyarakat Aceh.
Pesan dan Doa
Mengakhiri artikel ini, izinkan saya menyampaikan sebuah hikayat dan dua syair dalam bahasa Melayu dan Bahasa Aceh. Disertai harapan agar seluruh warga Aceh di manapun berada, di Nanggroe maupun di rantau, senantiasa dalam kekompakan, dan menjauhi segala bentuk kemungkaran dan perpecahan.
Bismillah terucap di awal kalam, Puji bagi Allah, Rabbul ‘Alam. Persatuan Aceh jadi cahaya terang, Menghapus duka, meneguhkan iman yang lapang.
Ya Allah, satukan hati kami, Jauhkan dari fitnah dan iri dengki. Jadikan persaudaraan ini abadi, Untuk dunia dan akhirat yang hakiki.
