News
Gampong Alue Ie Mirah Ubah Mahar Manyam ke Gram untuk Ringankan Beban Pernikahan
5 hari yang lalu
Pemerintah Gampong Alue Ie Mirah di Aceh Timur berencana mengubah satuan mahar dari manyam ke gram untuk meringankan beban ekonomi masyarakat, khususnya generasi muda. Kebijakan ini diharapkan dapat memutus rantai beban gengsi dalam prosesi pernikahan.
Keuchik Gampong Alue Ie Mirah, Romi Syahputra, menyatakan akan segera menerbitkan Peraturan Gampong untuk melegitimasi kebijakan tersebut. Langkah ini diambil bukan untuk mengikis adat, melainkan sebagai bentuk adaptasi agar kearifan lokal tetap relevan dengan realitas ekonomi masyarakat saat ini.
Dampak Ekonomi
- Harga emas murni mencapai Rp8.000.000 per manyam, membuat mahar menjadi beban finansial yang berat.
- 1 manyam setara dengan 3,33 gram, sehingga penggunaan satuan gram dianggap lebih presisi dan transparan.
Proses Musyawarah
- Kebijakan ini akan digodok melalui musyawarah besar bersama Tuha Peut, tokoh adat, tokoh agama, dan unsur masyarakat.
- Tujuannya adalah untuk memastikan legitimasi yang kuat, baik secara adat maupun syariat Islam.
Harapan ke Depan
- Pemerintah Gampong Alue Ie Mirah berharap kebijakan ini dapat menjadi contoh bagi wilayah lain di Aceh.
- Diharapkan Pemerintah Kabupaten maupun Pemerintah Aceh dapat melirik inisiatif ini untuk dijadikan pedoman yang lebih luas dalam penyederhanaan mahar.
Pernyataan Keuchik
"Kita ingin adat tetap dijaga, tapi jangan sampai memberatkan. Mahar itu simbol tanggung jawab dan keikhlasan, bukan ukuran gengsi," tegas Romi Syahputra.
Dengan kebijakan ini, diharapkan tradisi pernikahan bisa berjalan lebih sederhana, adil, dan membawa keberkahan bagi pasangan baru tanpa harus tercekik beban finansial yang berat.
Konteks Lokal
- Gampong Alue Ie Mirah terletak di Kecamatan Indra Makmu, Aceh Timur.
- Kebijakan ini diharapkan dapat memicu efek domino bagi wilayah lain di Aceh.
Dampak Jangka Panjang
- Kebijakan ini diharapkan dapat mengurangi beban finansial bagi generasi muda yang ingin menikah.
- Diharapkan dapat menjaga kearifan lokal tetap relevan dengan realitas ekonomi masyarakat saat ini.
