News
Dosen UIN Ar-Raniry Ungkap Memori Tragedi Pulot-Cot Jeumpa dalam Disertasi Doktor
09 Januari 2026 06:28
Muhammad Thalal, dosen sejarah Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Banda Aceh, berhasil mempertahankan disertasinya pada sidang disertasi Program Doktor Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (DPIPS) di Universitas Syiah Kuala. Disertasi ini mengungkap konsep Nested Contentious Memory atau Memori Bersarang yang Kontroversial, yang menjelaskan bagaimana ingatan orang Aceh tentang kekerasan masa lalu tetap hidup dalam berbagai lapisan dan bertahan secara laten.
Penelitian Thalal berfokus pada rekonstruksi historis berdasarkan memori kolektif mengenai tragedi Pulot-Cot Jeumpa yang terjadi pada akhir Februari dan awal Maret 1955. Ia menyatakan bahwa tragedi ini bukan merupakan insiden tunggal, tetapi merupakan bagian dari rangkaian peristiwa DI/TII. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa masyarakat Aceh menggunakan ritual keagamaan dan tradisi lisan untuk menjaga kebenaran sejarah mereka.
Konsep Nested Contentious Memory
- Memori Bersarang yang Kontroversial: Konsep ini menjelaskan bahwa ingatan tentang kekerasan masa lalu tetap hidup dalam berbagai lapisan dan bertahan secara laten.
- Ritual Keagamaan dan Tradisi Lisan: Masyarakat Aceh menggunakan ritual keagamaan dan tradisi lisan untuk menjaga kebenaran sejarah mereka.
- Tantangan dan Peluang: Penelitian ini menciptakan tantangan sekaligus peluang bagi pendidikan sejarah di wilayah pascakonflik seperti Aceh.
Kontribusi Penelitian
- Penulisan Sejarah Lokal Aceh: Hasil penelitian diharapkan dapat berkontribusi pada penulisan sejarah lokal Aceh.
- Pendidikan Sejarah Kritis: Penelitian ini juga diharapkan dapat berkontribusi pada pengembangan pendidikan sejarah kritis di Indonesia.
Tim Promotor dan Penguji
- Promotor Utama: Profesor Dr Husaini Ibrahim MA, sejarawan Aceh.
- Ko-Promotor: Profesor Dr Asnawi MEd, Koordinator Prodi Doktor Ilmu Pendidikan FKIP USK, dan Dr Effendi Hasan MA, Pakar politik dari FISIP USK.
- Penguji: Profesor Dr Yusri Yusuf MPd, Ketua Majelis Adat Aceh, dan Dr Reza Idria MA, antropolog lulusan Universitas Harvard Amerika Serikat.
