Dewan Pimpinan Pusat Aceh Culture and Education (DPP ACTION) bersama Museum Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), melaksanakan penelitian lapangan sekaligus ziarah sejarah ke kawasan Puloe Ie, Kabupaten Nagan Raya, pada 18 April 2026. Kegiatan ini difokuskan pada penelusuran jejak peradaban melalui situs makam Habib Seunagan dan kompleks makam kuno Cut Wan.
Habib Seunagan, yang memiliki nama lengkap Sayyid Abdurrahim bin Sayyid Abdul Qadir, dikenal sebagai tokoh utama penyebar Tarekat Syattariyah di wilayah Seunagan. Dengan gelar Qutbul Wujud, ia menempati posisi penting dalam tradisi tasawuf Aceh dan menjadi poros spiritual yang berpengaruh di Pantai Barat Selatan.
Temuan Penelitian
- Keterkaitan Ulama dan Perjuangan: Penelitian menguatkan keterkaitan antara jaringan ulama tarekat dengan gerakan perlawanan rakyat Aceh. Dalam literatur sejarah, disebutkan bahwa pada Oktober 1899 seorang tokoh bernama Habib Seunagan pernah diangkat sebagai panglima dalam pasukan gerilya di wilayah Meukek.
- Makam Kuno Cut Wan: Tim juga melakukan observasi dan pendataan terhadap sejumlah kompleks pemakaman kuno di kawasan tersebut. Salah satu yang menjadi fokus adalah makam Cut Wan yang telah diidentifikasi sebagai Objek Diduga Cagar Budaya (ODCB) oleh Balitbang ACTION.
- Tipologi Nisan Khas Aceh: Kompleks makam ini memiliki tipologi nisan khas Aceh Darussalam abad ke-17, yang menunjukkan kuatnya pengaruh peradaban Islam klasik di wilayah ini.
- Situs Baru Batee Meuraksa: Tim menemukan situs lain di kawasan "Batee Meuraksa" dengan karakteristik nisan serupa. Temuan ini tergolong baru di wilayah Nagan Raya dan mengindikasikan bahwa kawasan tersebut telah menjadi pusat permukiman sejak sekitar abad ke-17 atau tahun 1600-an.
Dampak dan Harapan
Ketua DPP ACTION, Aris Faisal Djamin, menyatakan bahwa kegiatan ini bukan sekadar ziarah, tetapi bagian dari upaya ilmiah untuk memperkuat identitas sejarah daerah. "Jejak Habib Seunagan sebagai ulama tarekat sekaligus figur yang terkait dengan jaringan perjuangan, serta keberadaan makam kuno seperti Cut Wan, menunjukkan bahwa Nagan Raya memiliki akar peradaban yang kuat dan tua. Ini penting untuk memperkuat identitas sejarah daerah," kata Aris Faisal Djamin.
Hasil penelitian ini akan ditindaklanjuti melalui proses pendataan, kajian arkeologis, serta dorongan untuk penetapan status cagar budaya. Penelitian ini diharapkan menjadi pijakan awal bagi kajian lanjutan dalam bidang sejarah, arkeologi, dan studi keislaman, sekaligus meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga dan merawat warisan leluhur.
Baca Artikel di Sumber Asli
Dapatkan informasi lengkap dari kanal terpercaya.
Populer Pekan Ini
Semua BeritaPemerintah Aceh Raih Predikat A- Reformasi Birokrasi, Empati Terhadap Warga Membangun
MODUSACEH.CO, Banda Aceh | Pemerintah Aceh mencatatkan, peningkatan kinerja reformasi birokrasi pada tahun 2025. Berdasarkan hasil evaluasi Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Refo
Warga Penyintas Banjir Aceh Utara Kehilangan Huntara Akibat Angin Kencang
"Dari 58 unit bangunan Huntara yang terdampak, kerusakan tersebar di empat lokasi. Kerusakan paling parah terjadi di Gampong Rumoh Rayeuk,”
: Warga Pintu Rime Gayo Khawatir Tenang Korupsi BUMDESMA Rp 1,44 Miliar
BENER MERIAH - Penyidik Kejaksaan Negeri (Kejari) Bener Meriah menahan Ilham Iskandar, tersangka kasus dugaan korupsi pengelolaan Dana Badan Usaha...
58 Huntara Penyintas Banjir di Aceh Utara Rusak Akibat Angin Kencang
Untuk warga yang Huntaranya rusak berat, sementara akan disiapkan tenda darurat di lokasi


Diskusi Hangat
0 Kontribusi Komunitas
Suara Anda Sangat Berarti
Jadilah pionir dalam diskusi ini.