News
Dignity Kit untuk Penyintas Bencana di Aceh: Menjaga Martabat dan Kesehatan Mental
7 jam yang lalu
Dalam situasi darurat bencana, perhatian publik kerap terfokus pada pemenuhan kebutuhan pangan, air, dan tempat berlindung. Namun, di balik kebutuhan tersebut, terdapat aspek lain yang tak kalah penting: menjaga martabat penyintas. Kesadaran inilah yang melandasi kolaborasi Center for Public Mental Health (CPMH) Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A) dalam menyalurkan dignity kit bagi penyintas bencana di sejumlah wilayah Aceh.
Penyaluran bantuan dilakukan secara bertahap sejak akhir Desember 2025 hingga awal Januari 2026, dan kembali dilanjutkan pada Kamis, 15 Januari 2026 dengan penyaluran 45 paket dignity kit di Dusun Meunasah Lhoknga dan Gampong Masjid Tuha, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya. Bantuan diserahkan langsung ke tenda-tenda keluarga penyintas dan rumah warga terdampak, serta sebagian kecil melalui posko pengungsian, untuk memastikan bantuan diterima oleh mereka yang paling membutuhkan—khususnya perempuan dan anak perempuan.
Penyaluran Dignity Kit
- 50 dignity kit disalurkan pada 27 Desember 2025 di Kabupaten Pidie Jaya, meliputi Dusun Meunasah Lhoknga, Gampong Masjid Tuha, dan Gampong Meunasah Lhok.
- 40 dignity kit disalurkan pada 2 Januari 2026 di Gampong Meunasah Blang, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara.
- 27 dignity kit disalurkan pada 4 Januari 2026 di Gampong Air Tenang dan Gampong Tanah Terban, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang.
Pendekatan Terpadu
Penyaluran dignity kit tidak dilakukan sebagai kegiatan tunggal. Tim di lapangan mengintegrasikannya dengan pelayanan kesehatan umum, home visit, serta perawatan luka bagi warga yang belum dapat mengakses fasilitas kesehatan akibat kerusakan infrastruktur dan keterbatasan transportasi. Selain itu, pendampingan psikososial anak juga menjadi bagian penting dari respons kemanusiaan, melalui aktivitas bermain, menggambar, dan bercerita untuk membantu anak-anak mengekspresikan emosi dan mengurangi dampak stres pascabencana.
Pentingnya Dignity Kit
Kepala Pusat Kajian Kesehatan Mental Masyarakat (CPMH) Fakultas Psikologi UGM, Diana Setyawati, S.Psi., M.HSc., Ph.D., Psikolog, menegaskan bahwa dignity kit memiliki peran penting dalam pemulihan kesehatan mental penyintas. "Dalam situasi bencana, penyintas sering kehilangan kontrol atas tubuh dan ruang pribadinya. Dignity kit membantu mengembalikan rasa aman, harga diri, dan kendali personal, terutama bagi perempuan dan remaja putri," ujar Diana.
Menurutnya, pemulihan psikologis tidak dapat dilepaskan dari pemenuhan kebutuhan dasar yang bersifat personal. "Ketika kebutuhan kebersihan dan perawatan diri terpenuhi, penyintas memiliki fondasi yang lebih kuat untuk pulih secara emosional dan mental."
Kolaborasi dan Pendekatan Kontekstual
Ketua Tim Reaksi Cepat (TRC) GEN-A, dr. Intan Qanita, menjelaskan bahwa penyaluran dignity kit ini merupakan bagian dari rangkaian aksi kemanusiaan yang lebih luas. "Aksi kemanusiaan GEN-A telah dilaksanakan sebanyak enam kali sejak bencana melanda. Kami telah menjangkau wilayah Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, dan Aceh Tamiang dengan berbagai layanan, mulai dari pelayanan medis dasar, penyaluran logistik, pendampingan psikososial, hingga pendampingan percepatan pemulihan desa," ujar dr. Intan.
Direktur Eksekutif GEN-A, dr. Imam Maulana, menegaskan bahwa dignity kit memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar paket bantuan. "Dignity kit bukan hanya tentang barang, tetapi tentang menjaga martabat penyintas. Ketika kebutuhan personal perempuan dan anak terpenuhi, mereka merasa lebih aman, lebih dihargai, dan proses pemulihan psikologis dapat berjalan lebih baik," ujarnya.
Dampak dan Harapan
Melalui kolaborasi lintas lembaga ini, CPMH Psikologi UGM dan GEN-A berharap respons bencana di Aceh dapat berjalan lebih manusiawi, sensitif terhadap kebutuhan khusus penyintas, dan berkelanjutan. Pendekatan yang memadukan bantuan logistik, layanan kesehatan, dan dukungan psikososial diharapkan mampu mempercepat pemulihan penyintas sekaligus memperkuat ketangguhan komunitas dalam menghadapi bencana di masa depan.
