News
437 Madrasah Aceh Siap PTM 5 Januari, 63 Masih Terhambat Banjir
03 Januari 2026 21:19
Bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh pada awal tahun 2025 meninggalkan dampak signifikan terhadap sektor pendidikan, khususnya madrasah. Namun, semangat pemulihan mulai terlihat dengan kesiapan mayoritas madrasah untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka (PTM) mulai 5 Januari 2025.
Menurut data dari Kanwil Kemenag Aceh, 437 dari 500 madrasah terdampak dinyatakan siap untuk melaksanakan PTM. Ini mencerminkan upaya keras para pendidik, tenaga kependidikan, dan dukungan masyarakat dalam memulihkan layanan pendidikan pascabencana.
Kesiapan dan Kendala
- 437 madrasah siap PTM: Mayoritas madrasah di Aceh telah siap melaksanakan kegiatan belajar mengajar, menunjukkan semangat pemulihan yang tinggi.
- 63 madrasah belum siap: Madrasah yang belum siap tersebar di beberapa kabupaten, dengan kendala utama seperti ruang kelas berlumpur, material banjir yang belum dibersihkan, dan akses jalan terputus.
- Kabupaten dengan kendala terbanyak: Aceh Utara (19 madrasah), Aceh Tamiang (17 madrasah), Aceh Tengah (14 madrasah), Pidie Jaya (7 madrasah), Bireuen (4 madrasah), dan Bener Meriah (2 madrasah).
Upaya Pemulihan
- Lokasi alternatif: 10 lembaga pendidikan yang roboh atau hanyut akibat banjir telah siap melaksanakan pembelajaran dengan memanfaatkan lokasi sementara seperti masjid, meunasah, lapangan desa, atau lahan madrasah yang masih tersedia.
- Koordinasi dengan pemerintah daerah: Kemenag terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, satuan pendidikan, serta relawan untuk mempercepat pemulihan sarana dan prasarana madrasah.
- Prioritas keselamatan: Pembelajaran tatap muka hanya akan dilakukan jika kondisi benar-benar aman dan nyaman bagi peserta didik dan guru.
Komitmen Kemenag
Kepala Kanwil Kemenag Aceh, Azhari, menegaskan komitmen Kemenag dalam memastikan layanan pendidikan madrasah tetap berjalan meski di tengah keterbatasan akibat bencana. Ia juga mengapresiasi solidaritas berbagai pihak yang terlibat dalam pemulihan madrasah, mulai dari relawan, pemerintah daerah, hingga masyarakat setempat.
