News
Dasco dan Pragmatisme Aceh: Kepemimpinan Bencana yang Diperlukan
4 hari yang lalu
Bencana di Aceh bukan hanya tentang kerusakan fisik, tetapi juga tentang bagaimana kepemimpinan dan politik berinteraksi dalam situasi krisis. Artikel ini membahas peran Dasco dalam kepemimpinan bencana di Aceh, mengeksplorasi dinamika politik dan birokrasi dalam penanganan bencana, serta menyoroti pentingnya pragmatisme dalam pemulihan Aceh.
Analisis mendalam dari seorang sosiolog dan mantan anggota BRR Aceh Nias memberikan perspektif berharga tentang tantangan dan harapan dalam pemulihan Aceh. Artikel ini juga membahas bagaimana politik dapat menjadi alat percepatan dalam penanganan bencana, dan bagaimana pragmatisme Aceh menjadi penentu dalam pemulihan.
Kepemimpinan Bencana di Aceh
-
Peran Dasco: Dasco, sebagai Wakil Ketua DPR RI, tampil sebagai pusat sentrifugal legislatif yang menjaga perhatian politik nasional tidak terpecah dan memastikan DPR tidak sekadar mengawasi dari jauh, tetapi ikut mengondisikan percepatan.
-
Pragmatisme Aceh: Masyarakat Aceh menilai keberhasilan berdasarkan hasil nyata, seperti jalan yang terbuka, jembatan yang menghubungkan kampung, dan layanan publik yang berfungsi.
-
Tantangan Pemulihan: Pemulihan infrastruktur kritis hanyalah fondasi awal. Tantangan yang lebih berat terletak pada perumahan dan pemukiman, serta penguatan ekonomi lokal.
Dinamika Politik dan Birokrasi
-
Kepemimpinan yang Menyatukan: Yang hilang bukan niat, melainkan kepemimpinan yang menyatukan. Pembentukan Satgas Jembatan dan Satgas Kuala menjadi upaya untuk memberi fokus.
-
Politik sebagai Alat Percepatan: Politik tidak selalu menjadi masalah dalam kepemimpinan bencana. Dalam kondisi tertentu, politik justru menjadi alat percepatan.
-
Harapan terhadap Dasco: Harapan terbesar terhadap Dasco adalah kemampuannya membantu negara mengakhiri fase darurat dengan baik dan memastikan pemulihan Aceh benar-benar tuntas.
Pragmatisme Aceh
-
Logika Sederhana: Bagi masyarakat Aceh, ukuran keberhasilan tidak pernah rumit. Yang dinilai adalah siapa yang mampu mewujudkan hasil nyata.
-
Pemulihan sebagai Maraton: Pemulihan adalah maraton, bukan sprint. Ia akan memakan waktu bertahun-tahun dan menuntut konsistensi lintas isu dan lintas momentum politik.
-
Pelajaran dari Aceh: Dalam bencana, hasil mengalahkan retorika, kecepatan mengalahkan birokrasi, dan pragmatisme mengalahkan formalitas.
