News
SMA Matangkuli Aceh Utara Integrasikan Kebencanaan dalam Kokurikuler untuk Generasi Tangguh
3 jam yang lalu
SMA Negeri 1 Matangkuli, Aceh Utara, mengambil langkah inovatif dengan mengintegrasikan pendidikan kebencanaan dalam kegiatan kokurikuler. Program ini bertujuan untuk membangun generasi yang tangguh dan siap menghadapi berbagai jenis bencana yang sering melanda Aceh.
Kepala SMA Negeri 1 Matangkuli, Khairuddin, S.Pd., M.Pd., menyatakan bahwa pendidikan kebencanaan tidak boleh lagi dibiarkan bersikap netral dan ahistoris. Sekolah harus mengambil posisi untuk menjadikan pengalaman kolektif kebencanaan sebagai fondasi pembentukan generasi yang lebih tangguh.
Integrasi Kebencanaan dalam Kokurikuler
-
Pemahaman Holistik: Siswa mempelajari berbagai jenis bencana, termasuk bencana hidrometeorologi, geologi, dan kesehatan. Mereka diajak memahami bencana bukan semata peristiwa alam, melainkan hasil interaksi antara ancaman dan kerentanan manusia.
-
Pendidikan Ekologi dan Kewargaan: Melalui diskusi, kajian literasi, dan refleksi lokal, siswa diajak membaca hubungan antara kerusakan hutan, perubahan tata guna lahan, dan meningkatnya frekuensi bencana hidrometeorologi.
-
Kesiapsiagaan dan Mitigasi: Siswa mempelajari mekanisme terjadinya bencana, prinsip mitigasi, serta pentingnya kesiapsiagaan dan perencanaan evakuasi. Pengetahuan ini diarahkan untuk membangun kesadaran rasional dan kesiapan sosial.
Karya Tulis Ilmiah (KTI) sebagai Ruang Pembelajaran
-
Pembelajaran Berbasis Masalah: KTI menjadi ruang pembelajaran berbasis masalah yang mendorong siswa meneliti fenomena kebencanaan di sekitar mereka, menganalisis dampak sosial dan pendidikan, serta merumuskan gagasan mitigasi dan pemulihan pascabencana.
-
Produksi Pengetahuan: Kebencanaan tidak lagi menjadi tema pinggiran, melainkan inti dari pembelajaran berpikir kritis, literasi ilmiah, dan tanggung jawab sosial.
Tantangan dan Peluang
-
Tantangan: Tidak semua pendidik memiliki latar belakang pendidikan kebencanaan dan tidak semua sekolah memiliki sumber daya yang memadai. Namun, kepekaan konteks dan keberanian kebijakan dapat menjadi modal awal yang kuat.
-
Peluang: Ke depan, kegiatan kokurikuler kebencanaan di SMA Negeri 1 Matangkuli memiliki peluang besar untuk berkembang dari program berbasis sekolah menjadi model pembelajaran kontekstual yang dapat direplikasi.
Kontribusi terhadap Komunitas
-
Duta Pengetahuan: Siswa yang terlibat aktif dalam kajian mitigasi dan pemulihan pascabencana berpotensi menjadi duta pengetahuan di lingkungan keluarga dan masyarakatnya, menjembatani pengetahuan ilmiah dengan praktik keseharian.
-
Ekosistem Pengurangan Risiko Bencana: Sekolah tidak lagi berdiri sebagai institusi tertutup, melainkan simpul penting dalam ekosistem pengurangan risiko bencana.
Dengan integrasi kokurikuler kebencanaan dan pengembangan buku, SMA Negeri 1 Matangkuli membuka jalan bagi lahirnya tradisi intelektual sekolah yang berakar pada konteks lokal dan tantangan global. Pendidikan kebencanaan tidak lagi berhenti pada kesadaran, tetapi juga bergerak menuju produksi pengetahuan dan advokasi berbasis sekolah.
