News
Dua Bulan Pascabanjir, Warga Aceh Tamiang Masih Berjuang di Pengungsian
7 jam yang lalu
Hampir dua bulan setelah banjir besar melanda Aceh Tamiang pada 26 November 2025, kondisi di wilayah ini masih jauh dari pulih. Banyak warga masih bertahan di pengungsian di bantaran sungai, sementara rumah-rumah mereka belum bisa dihuni kembali. Selain itu, debu berterbangan di Jalan Banda Aceh-Medan mengganggu aktivitas pengendara, terutama pada malam hari.
Kondisi ini memaksa masyarakat untuk menggunakan masker dan penutup mata dalam beraktivitas sehari-hari. Banjir yang melanda wilayah ini tidak hanya meninggalkan kerusakan fisik, tetapi juga dampak sosial dan ekonomi yang berkepanjangan.
Dampak Banjir di Aceh Tamiang
- Rumah warga belum pulih: Banyak rumah masih dalam kondisi rusak dan tidak layak huni.
- Pengungsian masih beroperasi: Warga masih tinggal di pengungsian di bantaran sungai.
- Gangguan di jalan lintas Sumatra: Debu berterbangan mengganggu jarak pandang pengendara, terutama pada malam hari.
- Masyarakat harus beradaptasi: Penggunaan masker dan penutup mata menjadi kebutuhan harian.
Kondisi Jalan dan Aktivitas Masyarakat
- Debu mengganggu aktivitas: Kondisi jalan yang berdebu membuat pengendara rentan terhadap kecelakaan.
- Kesulitan beraktivitas: Masyarakat harus ekstra hati-hati dalam beraktivitas sehari-hari.
Banjir besar yang melanda Aceh Tamiang pada 26 November 2025 masih meninggalkan dampak yang signifikan. Pemulihan rumah dan infrastruktur masih memerlukan waktu, sementara masyarakat harus berjuang untuk beradaptasi dengan kondisi yang ada.
Upaya Pemulihan
- Pemulihan rumah: Proses pemulihan rumah masih berjalan, tetapi memerlukan waktu yang tidak sedikit.
- Bantuan masyarakat: Masyarakat saling membantu untuk bertahan di pengungsian.
- Kesadaran akan keselamatan: Penggunaan masker dan penutup mata menjadi kebiasaan baru bagi warga.
Kondisi di Aceh Tamiang pascabanjir masih memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak. Pemulihan infrastruktur dan rumah warga harus segera dilakukan untuk mengembalikan kehidupan normal masyarakat.
