Lebaran Idulfitri tahun ini di Aceh menghadirkan dua wajah yang berbeda. Di satu sisi, masyarakat merayakan dengan penuh tradisi dan kebersamaan. Di sisi lain, ribuan korban banjir masih menjalani hari raya di pengungsian dengan segala keterbatasan. Perbedaan ini tidak hanya menggambarkan kondisi sosial yang timpang, tetapi juga menyisakan pertanyaan tentang makna Lebaran bagi mereka yang belum sepenuhnya pulih dari bencana.
Guru Besar Sosiologi Universitas Malikussaleh (Unimal), Prof Dr Suadi MSi, mengulas makna Lebaran bagi para pengungsi korban banjir, dampak jangka panjang terhadap struktur sosial masyarakat, serta evaluasi terhadap penanganan bencana yang dinilai masih menyisakan berbagai persoalan.
Dampak Sosial Banjir
- Tradisi Lebaran: Dalam kondisi normal, Idulfitri bagi masyarakat Aceh merupakan puncak dari siklus sosial tahunan yang telah berlangsung turun-temurun. Tradisi seperti ziarah kubur dan teumeutuk menjadi simbol kebersamaan dan identitas budaya.
- Kondisi Pengungsi: Setelah empat bulan pascabencana banjir bandang dan longsor pada November 2025, ribuan keluarga di Aceh masih hidup di tenda-tenda darurat tanpa kepastian kapan hunian sementara akan selesai dibangun.
- Dampak Sosial: Banjir tidak hanya merusak infrastruktur fisik, tetapi juga merusak sistem sosial yang selama ini menjaga kohesi dan identitas masyarakat. Hilangnya ruang-ruang komunal seperti balai desa, pasar, masjid, dan jalan desa menyebabkan terputusnya ritme kehidupan desa.
Evaluasi Penanganan Bencana
- Peran Negara: Proses pemulihan yang diharapkan berjalan cepat justru tersendat karena peran negara sebagai fasilitator utama belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat terdampak.
- Potensi Konflik Sosial: Distribusi bantuan yang tidak merata berpotensi memicu fragmentasi sosial, menurunkan kepercayaan terhadap kepemimpinan lokal, serta mengikis solidaritas yang sebelumnya kuat.
- Kelompok Rentan: Perempuan, anak-anak, dan lansia menjadi pihak yang paling merasakan dampak berkepanjangan dari kondisi ini.
Solusi dan Harapan
- Modal Sosial: Solusi yang dinilai paling memungkinkan adalah memperkuat modal sosial masyarakat melalui semangat gotong royong dan saling membantu. Prinsip "warga menjaga warga" menjadi strategi bertahan hidup yang penting.
- Peran Lembaga Adat: Penguatan peran keuchik, lembaga adat seperti tuha peut, serta tokoh agama dinilai sebagai kunci dalam mempercepat pemulihan, baik secara fisik maupun psikososial.
- Kearifan Lokal: Dengan nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal yang kuat, masyarakat Aceh diyakini memiliki kemampuan untuk bangkit tanpa harus sepenuhnya bergantung pada bantuan luar.
Baca Artikel di Sumber Asli
Dapatkan informasi lengkap dari kanal terpercaya.
Populer Pekan Ini
Semua BeritaIbu Aceh Singkil Raih Panen Bawang Merah Via Benih Biji","PublicImpact":9,"Credibility":9,"Urgency":6,"Evidence":7,"LongTermValue":9,"Education":7,"FinalScore":83,"Summary":"Pemkab Aceh Singkil kolab
Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Aceh Singkil berkolaborasi dengan NGO mitra pembangunan berhasil mengembangkan budidaya bawang merah
Petani Aceh Timur Harapkan Solusi Lahan PT Bumi Flora lewat Mediasi
Dalam kesempatan itu, kata dia, masing-masing perwakilan sudah diberikan kesempatan untuk menyampaikan apa yang menjadi aspirasinya.
Warga Aceh Menanti Respons Gubernur Soal Cabut JKA","PublicImpact":80,"Credibility":85,"Urgency":80,"Evidence":65,"LongTermValue":70,"Education":55,"FinalScore":77,"Summary":"Massa aksi menolak Pergub
Pantauan Serambinews.com di lokasi, jumlah massa yang bertahan hingga malam ini terlihat lebih sedikit dari massa yang hadir pada siang tadi.
Empati Warga Pidie Jaya: USK Kirim 1.050 Mahasiswa Bantu Bangun Usaha
PIDIE JAYA - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Wamendiktisaintek) Prof. Stella Christie, Ph.D., mengapresiasi...


Diskusi Hangat
0 Kontribusi Komunitas
Suara Anda Sangat Berarti
Jadilah pionir dalam diskusi ini.