News
Banjir Bandang 2025 Ancam Lahan Pertanian Aceh, Petani Terus Rentan
1 hari yang lalu
Banjir bandang yang melanda Aceh pada tahun 2025 bukan hanya peristiwa alam musiman, tetapi juga cerminan rapuhnya relasi antara manusia, lingkungan, dan sistem pertanian. Air yang meluap dari sungai membawa lumpur dan material dari hulu, merendam rumah, fasilitas umum, dan menghantam sektor pertanian. Sawah yang seharusnya menjadi sumber pangan berubah menjadi hamparan lumpur, dengan irigasi rusak dan tanah kehilangan struktur alaminya. Puluhan ribu hektare lahan pertanian terdampak, sebagian bahkan terancam tidak bisa ditanami dalam beberapa musim ke depan.
Dampak banjir bandang ini lebih luas dari dampak tsunami 2004, yang merusak sekitar 30–50 ribu hektare lahan pertanian, terutama di wilayah pesisir. Banjir bandang 2025 menghadirkan wajah bencana yang berbeda, tidak menghantam sekaligus tetapi berulang dan meluas. Wilayah tengah dan hulu Aceh, yang selama ini menjadi lumbung pangan, paling merasakan dampaknya. Kerusakan lahan sawah ini bukan sekadar masalah lokal, tetapi bagian dari tekanan yang lebih luas terhadap ketahanan pangan, baik nasional maupun global.
Dampak Banjir Bandang terhadap Pertanian Aceh
- Puluhan ribu hektare lahan pertanian terdampak, sebagian terancam tidak bisa ditanami dalam beberapa musim ke depan.
- Irigasi rusak dan tanggul jebol, menyebabkan tanah kehilangan struktur alaminya.
- Petani kehilangan penghidupan, dengan satu musim tanam yang hilang berarti satu tahun penghidupan yang lenyap.
- Kerusakan lebih luas dari tsunami 2004, namun penanganannya seringkali hanya jangka pendek.
Tantangan Ketahanan Pangan
- Ancaman terhadap komoditas lain dan ketidakmerataan produksi antarwilayah menjadi tekanan serius terhadap ketersediaan dan distribusi pangan.
- Hampir sepertiga penduduk Indonesia masih menghadapi ketidakamanan pangan dalam berbagai bentuk, seperti stunting pada anak dan kurang gizi.
- Pola bencana yang berulang setiap tahun berpotensi mempengaruhi ketahanan pangan lokal bahkan nasional.
Respons Pemerintah dan Solusi Jangka Panjang
- Bantuan benih, pupuk, alat pertanian, dan perbaikan sementara irigasi menjadi langkah awal yang patut diapresiasi.
- Pemulihan pertanian pascabanjir harus dimulai dari pemahaman bahwa tanah adalah ekosistem hidup, dengan pembersihan sedimen, perbaikan drainase, dan pemulihan fungsi irigasi.
- Petani membutuhkan jaminan pangan dan perlindungan pendapatan selama masa pemulihan.
- Pertanian Aceh tidak bisa lagi dikelola dengan pola lama, perlu adaptasi terhadap perubahan curah hujan, intensitas hujan ekstrem, dan pergeseran musim tanam.
- Penguatan kapasitas petani dalam konservasi tanah dan air, pengelolaan lahan berkelanjutan, serta diversifikasi tanaman perlu diperluas.
Pelajaran dari Tsunami 2004
- Pemulihan yang berhasil adalah pemulihan yang terintegrasi, dengan rekonstruksi irigasi, perbaikan tata kelola lahan, dan pendampingan petani.
- Pertanian tangguh bencana bukan slogan, tetapi sistem yang mampu mengantisipasi, menyerap, dan pulih dari guncangan.
- Aceh membutuhkan pertanian yang bukan hanya produktif, tetapi juga tangguh menghadapi bencana, untuk menjamin masa depan pangan, kesejahteraan petani, dan ketahanan daerah.
