News
Guru Lhokseumawe Hidupkan Kearifan Lokal di Kelas dengan Jeu’e
07 Januari 2026 08:03
Di tengah derasnya arus modernisasi dan digitalisasi pendidikan, guru di Aceh dihadapkan pada tantangan besar untuk menghadirkan pembelajaran yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berakar kuat pada nilai-nilai budaya dan kearifan lokal. Zawahir, S.Pd.Gr., seorang guru fisika di SMA Sukma Bangsa Lhokseumawe, mencoba pendekatan berbeda dengan mengaitkan konsep sains dengan kearifan lokal melalui jeu’e, alat tradisional yang digunakan untuk menampi beras.
Jeu’e bukan hanya perlengkapan rumah tangga, tetapi juga simbol ketelitian, kerja sama, dan nilai kesabaran perempuan Aceh di masa lalu. Dari gerakannya yang ritmis, siswa dapat memahami konsep fisika seperti gaya dorong, percepatan gravitasi, dan gerak jatuh bebas. Aktivitas sederhana ini membuka ruang bagi siswa untuk mengamati, menanyakan, dan menganalisis, sekaligus menyadari bahwa ilmu pengetahuan sejatinya tumbuh dari kehidupan sehari-hari.
Integrasi Digital dan Lokal
Agar pembelajaran semakin relevan dengan dunia siswa yang digital, Zawahir memadukan praktik tradisional dengan teknologi modern. Siswa melakukan simulasi gerak jatuh bebas lewat aplikasi PhET Colorado, mendesain poster ilmiah di Canva, menjawab kuis interaktif di Wayground, dan menuliskan refleksi pembelajaran mereka melalui Mentimeter. Kombinasi antara teknologi digital dan praktik tradisional menciptakan suasana belajar yang hidup, kolaboratif, dan menyenangkan.
Tantangan Guru
Menghidupkan kearifan lokal di kelas memang tidak mudah. Tantangan pertama adalah perubahan pola pikir (mindset) guru. Banyak guru yang masih merasa ragu atau tidak yakin bahwa budaya lokal bisa menjadi sumber belajar yang efektif. Tantangan kedua, minimnya sumber belajar berbasis lokal. Buku ajar nasional jarang menyinggung konteks budaya Aceh, sehingga guru perlu berinovasi sendiri. Tantangan ketiga, literasi digital. Di era ‘education technology’, guru Aceh harus mampu menggabungkan dua kekuatan, yakni tradisi dan teknologi. Keempat, dukungan ekosistem pendidikan. Keberhasilan pembelajaran berbasis budaya tidak cukup di tangan guru saja. Ia memerlukan sinergi antara sekolah, masyarakat, dan pemerintah daerah.
Ruh Pendidikan Aceh
Pendidikan sejatinya adalah proses memanusiakan manusia. Dalam pandangan hidup masyarakat Aceh, ilmu dan adab adalah dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Pengetahuan yang tak berlandaskan nilai akan kehilangan ruhnya. Karena itu, menghidupkan kearifan lokal di kelas bukan hanya urusan metode dan model, tetapi juga misi spiritual, membangun kesadaran bahwa belajar adalah ibadah, dan budaya adalah jalan untuk mengenal diri serta menghargai ciptaan Allah.
Menatap ke Depan
Ke depan, guru perlu saling berkolaborasi dalam mengembangkan pembelajaran berbasis budaya. Kolaborasi antarsekolah dapat melahirkan kumpulan ide dan sumber belajar yang mencerminkan kekayaan budaya Aceh dari berbagai daerah. Pendidikan berbasis kearifan lokal tidak berarti mundur ke masa lalu, tetapi justru melangkah ke depan dengan pijakan yang kuat. Ia menumbuhkan generasi yang terbuka terhadap dunia, tetapi tidak kehilangan akar budaya dan nilai Islam yang menjadi identitas masyarakat Aceh.
