News
Satgas Kuala Aceh Tamiang Mulai Kerja Februari 2026, Normalisasi Saluran Air Pasca Banjir
05 Januari 2026 13:00
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin memastikan proses kerja Satuan Tugas (Satgas) Kuala dalam menormalisasi saluran air di Aceh Tamiang terdiri dari beberapa tahapan. Tahapan kerja ini harus dilakukan secara rinci dan maksimal agar proses pengerukan saluran air dari lumpur bekas bencana banjir dan longsor bisa dilakukan secara efektif.
Sjafrie menjelaskan bahwa tahapan pertama yang dilakukan pihaknya yakni meninjau lokasi sungai yang akan dibersihkan. Peninjauan ini dilakukan untuk menentukan batas muara, jenis alat berat yang akan digunakan dan metode pengerjaannya. Tahapan selanjutnya yakni, pihak Satgas Kuala membentuk dua gugus tugas yakni Gugus Tugas Pendalaman Kuala (sungai) Tamiang dan Gugus Tugas Normalisasi Kuala.
Tahapan Kerja Satgas Kuala
- Tahap pertama: Peninjauan lokasi sungai untuk menentukan batas muara, jenis alat berat, dan metode pengerjaan.
- Tahap kedua: Pembentukan dua gugus tugas, yaitu Gugus Tugas Pendalaman Kuala Tamiang dan Gugus Tugas Normalisasi Kuala.
- Tahap ketiga: Pengiriman alat berat melalui jalur laut ke muara Sungai Tamiang pada pekan kedua Januari 2026.
- Tahap keempat: Satgas Kuala mulai bekerja pada awal Februari 2026.
Manfaat untuk Masyarakat
- Pembersihan saluran air: Satgas akan membersihkan sungai dan saluran air lainnya dari lumpur bekas bencana banjir dan longsor.
- Penjernihan air: Satgas juga akan mengerahkan mesin penjernih air untuk mengubah air kotor menjadi air bersih agar bisa digunakan pengungsi yang masih berada di lokasi bencana.
Koordinasi dan Harapan
Kendali Satgas Kuala dilaksanakan dari Kapal Markas Kemhan di kawal oleh KRI. Koordinasi dengan pemda, kabupaten dan instansi terkait. Sjafrie berharap dengan adanya Satgas Kuala, saluran air yang sebelumnya rusak di Aceh Tamiang dapat kembali digunakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Dengan adanya Satgas Kuala, diharapkan saluran air yang rusak dapat segera dipulihkan dan masyarakat Aceh Tamiang dapat kembali menggunakan saluran air tersebut untuk kebutuhan sehari-hari.
