News
Mentan Amran Ancam Cabut Izin Produsen Pangan Naikkan Harga Jelang Ramadhan
5 hari yang lalu
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengancam akan mencabut izin produsen pangan yang menaikkan harga menjelang Ramadhan dan Lebaran. Ancaman ini ditujukan untuk menjaga stabilitas harga komoditas penting seperti minyak goreng, ayam, dan telur, yang seringkali mengalami kenaikan harga tidak wajar selama bulan suci.
Amran menegaskan bahwa langkah ini bukan sekadar gertakan, melainkan didukung oleh TNI dan Polri untuk memastikan kepatuhan produsen. Ia juga mengingatkan bahwa urusan perizinan berada dalam kewenangannya, sehingga produsen diharapkan tidak menaikkan harga secara sepihak.
Kenaikan Harga Komoditas
- Harga telur ayam ras naik 1,51% dari Rp 33.200 menjadi Rp 33.700 per kilogram.
- Harga daging ayam ras naik 1,22% dari Rp 41.000 menjadi Rp 41.600 per kilogram.
- Harga minyak goreng sawit kemasan premium stabil di Rp 22.300 per liter.
- Harga minyak goreng sawit curah turun 1,11% dari Rp 18.000 menjadi Rp 17.800 per liter.
- Harga minyak goreng Minyakita stabil di Rp 16.800 per liter, masih di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp 15.700 per liter.
Langkah ini diharapkan dapat melindungi konsumen, terutama masyarakat Aceh, dari kenaikan harga yang tidak wajar selama bulan Ramadhan dan Lebaran. Stabilitas harga pangan sangat penting untuk menjaga daya beli masyarakat dan mendukung perekonomian lokal, terutama bagi UMKM dan keluarga di Aceh.
Dengan adanya ancaman pencabutan izin, diharapkan produsen dapat lebih bertanggung jawab dalam menjaga stabilitas harga pangan, sehingga masyarakat dapat menjalankan ibadah Ramadhan dan merayakan Lebaran dengan tenang dan nyaman.
Dampak bagi Masyarakat Aceh
- Stabilitas harga pangan membantu masyarakat Aceh dalam merencanakan pengeluaran selama bulan suci.
- Langkah ini mendukung perekonomian lokal, terutama bagi UMKM yang bergantung pada harga pangan yang stabil.
- Masyarakat Aceh diharapkan dapat menjalankan ibadah dan merayakan Lebaran tanpa khawatir akan kenaikan harga yang tidak wajar.
