News
Anggaran Pemulihan Infrastruktur Aceh Naik Jadi Rp 74 Triliun
9 jam yang lalu
Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengungkapkan kebutuhan anggaran untuk pemulihan infrastruktur pasca-bencana di Pulau Sumatera diperkirakan mencapai Rp 74 triliun. Angka ini meningkat signifikan dibandingkan estimasi awal sebesar Rp 51,8 triliun. Kenaikan anggaran ini disebabkan oleh rencana pembangunan tambahan infrastruktur pengendali banjir dan longsor, seperti sabo dam dan check dam.
Menurut Dody, kejadian longsor di Gayo Lues menjadi peringatan penting untuk segera membangun infrastruktur tersebut guna menahan sedimen, batu, dan material lainnya agar tidak mengalir ke wilayah hilir, seperti Aceh Tamiang. Proses pemulihan diperkirakan memakan waktu minimal dua tahun, dengan prioritas diberikan pada infrastruktur dasar yang paling penting.
Rencana Pemulihan Infrastruktur
- Anggaran pemulihan meningkat menjadi Rp 74 triliun dari estimasi awal Rp 51,8 triliun.
- Sabo dam akan dibangun di sekitar 30 titik di Aceh untuk mengendalikan banjir dan longsor.
- Waktu pemulihan diperkirakan memakan waktu minimal dua tahun, dengan beberapa proyek fisik memakan waktu 1–2 tahun.
- Prioritas pemulihan diberikan pada infrastruktur dasar yang paling penting, seperti jalan dan bendungan.
Dampak Jangka Panjang
- Infrastruktur yang diperbaiki akan meningkatkan keamanan dan kenyamanan masyarakat Aceh.
- Pembangunan sabo dam dan check dam diharapkan dapat mengurangi risiko banjir dan longsor di masa depan.
- Proses pemulihan yang bertahap akan memastikan bahwa infrastruktur dasar berfungsi maksimal secepat mungkin.
Dody juga menjelaskan bahwa pemulihan akan dilakukan secara bertahap sesuai prioritas jangka pendek, menengah, dan panjang, tergantung jenis dan tingkat kerusakan infrastruktur. Beberapa proyek fisik, seperti pembangunan check dam, Jalan Tarutung–Sibolga, dan Jalan Tol Lembah Anai, diprediksi memakan waktu 1–2 tahun karena kompleksitas pekerjaan.
Dengan adanya penambahan anggaran ini, diharapkan pemulihan infrastruktur pasca-bencana di Aceh dapat berjalan lebih efektif dan efisien, memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat setempat.
