Timeline Aceh
modusaceh.co
modusaceh.co

Kotak Pandora USK Terbuka: Masalah Struktural dan Solusi Calon Rektor

23 jam yang lalu

Penyampaian visi dan misi calon Rektor Universitas Syiah Kuala (USK) yang disiarkan secara daring melalui kanal YouTube telah membuka berbagai persoalan mendasar yang selama ini tidak diketahui publik. Dari forum tersebut, publik akhirnya dapat melihat dan mendengar secara jelas mengenai problem struktural, kultural, hingga manajerial yang membalut perguruan tinggi kebanggaan rakyat Aceh ini.

Prof. Mirza Tabrani memulai paparannya dengan menelusuri kembali dasar filosofis pendirian USK. Ia mengakui bahwa Rencana Strategis (Renstra) yang ada tergolong baik, namun realitas menunjukkan USK masih berada pada posisi middle player atau tahap pemantapan daya saing Asia, belum melompat menjadi universitas berkelas dunia. Masalah utama, menurutnya, bukan pada aspek akademik semata, melainkan pada Good University Governance, khususnya huruf “M” dalam IMT (Integrity–Management–Transparency).

Masalah Struktural dan Kultural

  • Birokrasi yang besar, kaku, lamban, dan tidak adaptif terhadap status PTNBH.
  • Ketidakberanian institusi mengelola potensi ekonomi, dengan investasi USK hanya sekitar 1% dari dana non-APBN.
  • Aset strategis (laboratorium, rumah sakit, lahan pertanian, kepakaran dosen) belum dimonetisasi optimal.
  • Remunerasi dosen serta tendik tertinggal dibanding PTN lain.

Solusi yang Ditawarkan

  • Penyederhanaan struktur organisasi dan integrasi perencanaan dan keuangan di bawah satu wakil rektor.
  • Penerapan smart governance berbasis humanocracy, bukan birokrasi kaku.
  • Monetisasi kepakaran dosen melalui konsultasi institusional dan komersialisasi laboratorium terstandar.
  • Optimalisasi RS Prince Nayef melalui klinik pakar dan pembentukan USK Holding sebagai payung usaha B2B.

Visi dan Misi Calon Rektor

Prof. Agussabti mengusung tagline “Transformasi Menuju USK Megah 2031”, dengan “Megah” sebagai akronim nilai: Mulia, Entrepreneur, Gagasan, Artikulatif, dan Holistik. Dia memusatkan kritik pada output lulusan dan relevansi USK terhadap perubahan sosial-ekonomi. Menurutnya, lulusan USK terlalu lama diposisikan sebagai pencari kerja, bukan pencipta kerja.

Pertanyaan Kritis

Dari dua gagasan besar ini, terlihat jelas bahwa masalah USK bukan pada kekurangan konsep, tetapi pada lemahnya eksekusi dan keberanian institusional. Ini terjadi sejak lima tahun terakhir atau di tangan kepemimpinan Prof Marwan. Realitasnya, USK terjebak dalam birokrasi besar namun tidak lincah. Kaya aset tetapi miskin optimalisasi. Memiliki SDM unggul, namun belum dikelola sebagai kekuatan strategis. Dan, mengusung jargon transformasi, tetapi masih berpikir sebagai Satker.

Pertanyaannya kemudian adalah, bukan lagi apa visi terbaik, melainkan siapa yang paling berani dan konsisten membongkar status quo. Sebab, USK tidak kekurangan ide besar, tetapi membutuhkan kepemimpinan yang mampu mengubah ide menjadi tindakan, dan tindakan menjadi dampak nyata.

Kotak Pandora USK Terbuka: Masalah Struktural dan Solusi Calon Rektor
0123456789