News
Pengerahan 6 Ribu Praja dan ASN di Aceh: Efektif atau Boros?
6 hari yang lalu
Pemerintah mengerahkan 6.132 Praja dan ASN untuk penanganan bencana di Aceh dengan biaya mencapai Rp28,75 miliar. Langkah ini dipertanyakan efektivitasnya dibandingkan pendekatan Cash For Work yang bisa memberdayakan lebih banyak masyarakat lokal.
Analisis menunjukkan bahwa dengan dana yang sama, skema Cash For Work dapat menciptakan 191.667 hari kerja atau memberdayakan 19.167 korban bencana selama 10 hari. Pendekatan ini tidak hanya lebih hemat biaya, tetapi juga meningkatkan rasa memiliki dan solidaritas sosial di antara korban bencana.
Perbandingan Pendekatan
- Pengerahan Praja dan ASN: 6.132 orang dengan biaya Rp28,75 miliar, sebagian besar untuk transportasi, logistik, dan akomodasi.
- Cash For Work: 19.167 orang korban bencana dengan upah Rp150 ribu per hari, dana langsung masuk ke ekonomi lokal.
Keunggulan Cash For Work
- Dampak Ekonomi: Uang berputar di tingkat komunitas, menciptakan efek berantai yang mempercepat pemulihan sosial dan ekonomi.
- Dampak Sosial: Masyarakat yang terlibat langsung dalam pemulihan wilayahnya mengalami peningkatan rasa memiliki, harga diri, dan solidaritas sosial.
- Efisiensi: Pendataan kerusakan dan pengungsi dapat dilakukan oleh masyarakat lokal dengan pendampingan petugas kecamatan, meningkatkan kualitas data.
Pelajaran dari Pasca-Tsunami 2004
Pengalaman Aceh pasca-tsunami menunjukkan bahwa program Cash For Work berhasil memberdayakan puluhan ribu korban bencana. Desa-desa dibersihkan, infrastruktur dasar diperbaiki, dan ekonomi lokal kembali bergerak jauh sebelum proyek-proyek besar selesai.
Pertanyaan Kebijakan
Dengan biaya Rp28,75 miliar, pertanyaan yang muncul adalah apakah pengerahan birokrasi lebih efektif daripada memberdayakan masyarakat korban bencana. Kebijakan publik harus diukur dari efektivitas dan dampaknya, bukan hanya niat baik.
Kesimpulan
Aceh membutuhkan pemulihan yang cepat, adil, dan berkelanjutan. Pendekatan Cash For Work menawarkan solusi yang lebih efektif dengan menjadikan masyarakat korban bencana sebagai aktor utama pemulihan. Ini bukan hanya soal penghematan, tetapi memaksimalkan dampak setiap rupiah yang dikeluarkan.
