Banjir bandang di Kabupaten Bireuen menyebabkan kerusakan parah pada sektor perikanan. Luas tambak yang terdampak mencapai 4.943 hektare, dengan berbagai kondisi kerusakan mulai dari terendam air hingga hilang menjadi muara. Selain tambak, infrastruktur pendukung seperti kapal nelayan dan unit pengolahan ikan juga mengalami kerusakan.
Kepala Dinas Pangan, Kelautan dan Perikanan Bireuen, Ir M Jafar MM, menyatakan bahwa rehabilitasi tambak masih menunggu kebijakan dan skema dari pemerintah pusat melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Meskipun telah dilakukan kunjungan oleh beberapa menteri dan pejabat, skema pelaksanaan rehabilitasi belum ditetapkan.
Dampak Banjir pada Sektor Perikanan
- 4.943 hektare tambak rusak dengan kondisi beragam
- 644 nelayan kehilangan kapal, perahu, maupun motor
- 7 Unit Pengolahan Ikan (UPI) rusak
- 228 unit Pengembangan Usaha Garam Rakyat (PUGaR) terdampak
- 1.000 meter lahan garam rusak
Tantangan Rehabilitasi
Rehabilitasi tambak memerlukan rekonstruksi teknis yang tepat, seperti pembangunan saluran buang dan tendon. Tantangan terbesar adalah social engineering, karena kepemilikan tambak umumnya bersifat kelompok, bukan perorangan. Beberapa kawasan seperti Gandapura, Jangka, dan Samalanga dinilai layak mendapat penanganan serupa dengan proyek Infrastructure Improvement for Shrimp Aquaculture Project (IISAP) yang didanai ADB.
Dampak pada Pelaku Usaha
Secara keseluruhan, pelaku usaha perikanan yang terdampak mencapai 4.717 orang. Kerusakan meliputi berbagai komoditas budidaya seperti udang, nila, lele, bandeng, kakap, hingga kerapu. Rehabilitasi yang cepat dan tepat sangat dibutuhkan untuk memulihkan sektor perikanan di Bireuen.
Baca Sumber Asli
Ingin memverifikasi informasi lebih lanjut?

