News
RSUDZA Siaga Ekstra Tangani 146 Pasien Banjir di Aceh, Tambah 120 Tempat Tidur
31 Desember 2025 23:00
Bencana banjir yang melanda beberapa kabupaten/kota di Aceh sejak akhir November 2025 memaksa Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin (RSUDZA) Banda Aceh beroperasi di luar kapasitas normal. Sebagai rumah sakit rujukan tertinggi di Aceh, RSUDZA menambah 120 tempat tidur rawat inap, meningkatkan total kapasitas menjadi 959 bed dari sebelumnya 839 bed. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi lonjakan pasien rujukan dari daerah terdampak.
Sejak bencana, 146 pasien dari wilayah seperti Pidie Jaya, Bireuen, dan Aceh Tamiang telah dirujuk ke RSUDZA. Rumah sakit ini juga mengirimkan tim medis subspesialistik ke lapangan, termasuk dokter emergency, bedah, dan anestesi, untuk menangani korban secara langsung. Koordinasi dengan Lanud dan Kesdam memungkinkan evakuasi udara bagi pasien yang tidak dapat dijangkau melalui darat.
Penanganan Darurat di RSUDZA
- Pelayan subspesialistik 24 jam: Laboratorium, radiologi, farmasi, dan fasilitas penunjang lainnya siap selama tujuh hari seminggu.
- Penambahan kapasitas: Dari 839 bed menjadi 959 bed untuk menampung pasien rujukan.
- Evakuasi udara: Kerja sama dengan Lanud dan Kesdam untuk medivac-air pasien kritis.
- Ruang transit IGD: Dikembangkan untuk mengurangi penumpukan pasien di ruang gawat darurat.
Dampak dan Respons
Bencana ini menguji kesiapsiagaan sistem kesehatan Aceh. Gubernur Aceh menekankan pentingnya persatuan masyarakat untuk pemulihan pasca-bencana. RSUDZA, dengan dukungan pemerintah pusat, terus berupaya memastikan pelayanan medis tetap optimal bagi warga terdampak.
Langkah-langkah ini menunjukkan komitmen RSUDZA dalam menangani krisis kesehatan di Aceh, sekaligus menjadi contoh bagi rumah sakit rujukan lainnya dalam menghadapi bencana serupa di masa depan. Warga diimbau tetap waspada dan mengikuti arahan dari pihak berwenang untuk meminimalisir risiko kesehatan pasca-bencana.
Dengan kondisi yang masih dinamis, RSUDZA siap menyesuaikan strategi penanganan sesuai kebutuhan lapangan. Prioritas utama tetap pada keselamatan dan pemulihan pasien, serta dukungan penuh bagi tenaga medis yang bertugas di garis depan.
