News
Direktur RSUD Sigli Duduk di Tengah Ratapan Anak Pengungsi Aceh Tamiang
08 Januari 2026 16:19
Mendung tipis berarak di atas langit Kabupaten Aceh Tamiang pada suatu siang, Kamis (1/1/2026). Rombongan Pemerintah Pidie dipimpin Sekda Pidie Drs Samsul Azhar tiba di ibu Kota Aceh Tamiang, salah satu titik terparah dilanda banjir pada 26 November 2025. Dalam rombongan itu juga hadir Direktur RSUD Tgk Chik Ditiro Sigli (RSUD TCD) Sigli, Pidie drg Mohd Riza Faisal MARS.
Di pelataran pengungsian Aceh Tamiang yang dingin dan berdebu, drg. Mohd Rizal Faisal, MARS bersama Sekda Kabupaten Pidie Drs Samsul Azhar menurunkan tubuhnya duduk. Lantai itu menyimpan jejak air bah, menyimpan sisa lumpur yang belum sempat kering. Di sekelilingnya, anak-anak pengungsi berkerumun. Tawa kecil mereka terdengar rapuh, seperti berusaha menutupi rasa takut yang tak pernah hilang.
Kehadiran yang Bermakna
- Direktur RSUD Sigli tidak memilih kursi empuk, namun bersahaja duduk di pelataran bersama para pengungsi.
- Anak-anak pengungsi berebut bercerita, tentang buku sekolah yang hanyut, tentang sepatu yang hilang, tentang rumah yang kini hanya tinggal kenangan.
- Bagi mereka, pria berompi biru tua itu bukan direktur rumah sakit, bukan pejabat kesehatan. Ia hanyalah orang dewasa yang mau mendengar ratapan kecil yang sering diabaikan.
Layanan Kesehatan di Tengah Bencana
- Faisal tahu, di tempat seperti ini, jabatan kehilangan makna. Yang dibutuhkan bukan perintah, melainkan kehadiran. Duduk sejajar. Menghapus jarak. Menjadi saksi dari luka yang tak terlihat.
- Ia datang membawa tanggung jawab besar: memastikan layanan kesehatan berjalan. Namun lebih dari itu, ia membawa kesadaran bahwa bencana tidak hanya melukai tubuh, tetapi juga meretakkan hati.
Dampak Banjir di Aceh Tamiang
- Air bah merendam rumah, menutup jalan, memaksa ribuan warga hidup di pengungsian. Di meunasah dan tenda darurat, kehidupan dijalani dengan jeda panjang: menunggu air surut, menunggu bantuan, menunggu kepastian yang tak kunjung datang.
- Tidak jauh dari tempat ia berbincang, seorang pengungsi terbaring di ranjang darurat. Kakinya dibalut perban tebal, masih basah oleh lumpur. Bau tanah bercampur obat menyelimuti udara.
Menjelang sore, matahari menurunkan cahayanya. Anak-anak kembali berlarian, mencoba menertawakan hari yang muram. Faisal berdiri, merapikan rompinya, bersiap melanjutkan agenda berikutnya. Tidak ada salam perpisahan yang formal. Hanya lambaian kecil, senyum yang tertinggal, dan tatapan mata yang menyimpan kesedihan.
Di Aceh Tamiang, ia menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam krisis tidak selalu berbentuk komando. Kadang ia hadir dalam bentuk paling sederhana: duduk di lantai pengungsian, mendengar, dan membiarkan tawa rapuh itu tumbuh sebentar, sebelum kembali tenggelam dalam air bah.
