News
500 Siswa Banjir Aceh Utara Terima School Kits dari SMA Negeri 1 Matangkuli
3 hari yang lalu
Banjir yang melanda Aceh Utara pada 26 November 2025 meninggalkan dampak signifikan bagi pendidikan di wilayah tersebut. SMA Negeri 1 Matangkuli, sebagai salah satu sekolah yang terdampak, mengambil inisiatif untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada 500 siswa penyintas bencana. Bantuan ini berupa school kits yang mencakup pakaian seragam, tas, sepatu, buku, alat tulis, serta perlengkapan mushalla.
Berbagai pihak turut berkontribusi dalam aksi solidaritas ini, termasuk Kementerian Agama Republik Indonesia yang memberikan bantuan sebesar Rp 20 juta, Pertamina Hulu Energy (PHE) dengan bantuan senilai Rp10 juta serta 30 unit tas sekolah, dan Lembaga Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Hak Asasi Manusia Aceh yang menyumbangkan 30 pasang pakaian seragam dan tumbler. Selain itu, masyarakat, guru, dan alumni juga turut berpartisipasi dengan menyumbangkan dana dan perlengkapan sekolah.
Penyaluran Bantuan
- Penyerahan bantuan dilaksanakan pada Senin (12/01/2026) di lingkungan SMA Negeri 1 Matangkuli.
- Kegiatan dihadiri oleh perwakilan donatur, termasuk Jefri dari Pertamina Hulu Energy, serta Pengawas Sekolah Saifullah Yusuf, M.Pd., sebagai representatif Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Aceh Utara.
Pesan dan Harapan
- Jefri dari Pertamina Hulu Energy mengajak seluruh warga sekolah untuk bangkit dari dampak bencana dan menjadikannya sebagai momentum menata kembali lingkungan hidup.
- Pengawas Sekolah Saifullah Yusuf, M.Pd. menyampaikan pesan edukatif dan penuh semangat kepada para siswa agar membangun karakter tangguh, resilien, dan berdaya juang tinggi.
- Kepala SMA Negeri 1 Matangkuli, Khairuddin, S.Pd., M.Pd. menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh donatur dan menegaskan bahwa seluruh bantuan dikelola secara akuntabel dan disalurkan langsung sesuai kebutuhan dasar pendidikan para penyintas.
Kondisi Sekarang
- SMA Negeri 1 Matangkuli telah kembali melaksanakan pembelajaran secara normal.
- Beberapa kelas masih harus belajar secara lesehan akibat kerusakan kursi dan meja yang terdampak banjir.
- Pembelajaran kokurikuler diarahkan pada tema kebencanaan sebagai bagian dari proses pemulihan (recovery) pascabencana sekaligus upaya mitigasi untuk menghadapi potensi bencana di masa mendatang.
