News
Perempuan Korban Banjir Aceh Tamiang Berjuang di Dapur Umum RSUD
08 Januari 2026 12:32
Banjir besar yang melanda Aceh Tamiang telah meninggalkan dampak yang mendalam bagi masyarakat setempat. Di tengah kesulitan, sekelompok perempuan korban banjir berjuang di dapur umum Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aceh Tamiang untuk menyediakan makanan bagi relawan dan pasien. Mereka, meski juga terdampak, tetap semangat memasak dan membersihkan rumah sakit yang masih terendam lumpur.
Dapur umum ini didukung oleh Yayasan Darah untuk Aceh dan donasi masyarakat. Mereka menyediakan makanan seperti M1 untuk balita, ikan goreng, sambal, dan sayur kol. Kondisi rumah sakit yang masih terendam lumpur membuat pembersihan dilakukan secara manual, dengan bantuan relawan dan anggota TNI.
Semangat Perempuan Korban Banjir
- Nur Annisa Khairani Aiyub dan 12 perempuan lain bekerja penuh semangat di dapur umum.
- Mereka adalah korban banjir yang juga membantu memasak untuk 800 relawan dan pasien.
- Sri Wulandari membungkus M1 untuk balita dengan lihai.
- Mereka merupakan pekerja di rumah sakit di bagian instalasi gizi.
Kondisi Rumah Sakit
- 70 persen ruangan sudah dibersihkan secara manual.
- 30 pasien sudah bisa dirawat sejak 9 Desember 2025.
- Ketersediaan air menjadi perhatian utama, dengan rumah sakit berupaya membuat sumur bor.
Dapur Umum dan Donasi
- Dapur umum dibuka sejak 22 Desember 2025 oleh Nuu Husein, pendiri Yayasan Darah untuk Aceh.
- Donasi berupa uang tunai dan bahan makanan seperti ikan, ayam, telur, dan minyak.
- Kendala gas sempat terjadi, hingga akhirnya Pertamina membantu menyediakan tabung gas.
Harapan dan Kepedulian
- Dapur umum bertahan sampai awal Januari 2026.
- Setiap nasi yang dibungkus merupakan bentuk kepedulian bersama.
- Dapur sederhana ini menjadi ruang harapan tempat orang-orang yang sama-sama terluka saling menguatkan.
Di tengah kesibukan, Nuu Husein terenyuh melihat kondisi warga yang kelaparan. Mereka hanya mengunyah mi instan mentah. Titik balik ini yang membuat Nuu membangun dapur umum. Dari Langsa, Nuu dan tim mengantar makanan untuk awal-awal. Karena keterbatasan peralatan dan sumber air, mereka harus kembali ke Langsa.
Bukan hanya persoalan dapur, Nuu yang juga tergabung dalam Relawan Tangguh menyuplai pelbagai bantuan kasur, baju, dan kebutuhan bayi dan balita. Di Gampong Kota Karang, Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang, Nuu melihat langsung kondisi warga yang kelaparan. Kepada dirinya ibu-ibu mengatakan mereka sudah beberapa hari tidak makan nasi.
Sembilan hari lamanya, dapur umum yang disediakan oleh Yayasan Darah untuk Aceh di Gampong Kota Karang bertahan. Kemudian berganti dengan dapur lainnya. Nuu harus kembali dan beranjak ke tempat lain untuk mendirikan dapur umum.
Satu persatu nasi yang telah dibungkus Nisa dimasukkan kedalam plastik biru. Sementara kawannya yang lainnya pergi ke gudang penyimpanan beras. Menggunakan kursi roda pasien, beras diangkut beberapa kali. Bahkan, mereka yang berkunjung ke dapur itu ikut membantu mendorong.
Sore itu, lumpur masih melekat di berbagai halaman rumah sakit. Relawan dan sejumlah anggota TNI juga sudah mulai membersihkan diri. Beristirahat sejenak, lalu mulai melakukan aktivitas yang sama di hari esok.
