News
Survei Mapala ALASKA Temukan Alur Sungai Krueng Peusangan Melebar Pasca Banjir Bireuen
02 Januari 2026 21:34
Banjir dan longsor yang melanda Bireuen baru-baru ini meninggalkan dampak ekologis dan sosial yang serius. Mahasiswa Pencinta Alam (Mapala) ALASKA Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan, Bireuen, melakukan survei untuk melihat perubahan morfologi Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Peusangan. Survei ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak bencana dan mendorong pembenahan tata kelola lingkungan hidup yang berkelanjutan.
Survei dilakukan dengan metode pengarungan sungai menggunakan rubber boat atau rafting. Tim survei menemukan bahwa alur sungai mengalami pelebaran signifikan akibat erosi tebing yang masif. Selain itu, banjir menyebabkan hilangnya 105 unit rumah dan kerusakan infrastruktur, termasuk terputusnya lima unit jembatan rangka baja dan satu jembatan kayu gantung.
Temuan Utama Survei
- Alur Sungai Melebar: Alur sungai Krueng Peusangan mengalami pelebaran signifikan akibat erosi tebing yang masif.
- Hilangnya Rumah: Banjir menyebabkan hilangnya 105 unit rumah di sepanjang jalur pengarungan.
- Kerusakan Infrastruktur: Terputusnya lima unit jembatan rangka baja dan satu jembatan kayu gantung.
- Aktivitas Manusia: Pelebaran alur sungai berkorelasi dengan aktivitas galian C, pembukaan lahan perkebunan kelapa sawit, dan deforestasi.
Dampak dan Rekomendasi
Survei ini menunjukkan pentingnya penegakan aturan pemanfaatan ruang dan ketentuan hukum terkait penanaman serta penggunaan lahan di bantaran sungai. Temuan ini diharapkan dapat mendorong evaluasi aktivitas pemanfaatan ruang di sepanjang DAS Krueng Peusangan, penguatan pengawasan lingkungan, serta penerapan aturan bantaran sungai secara konsisten.
Ke depan, hasil survei ini diharapkan dapat menjadi dasar untuk kebijakan pasca bencana yang tidak hanya berfokus pada fase tanggap darurat, tetapi juga evaluasi menyeluruh terhadap tata ruang dan pengelolaan lingkungan. Kasus DAS Krueng Peusangan mencerminkan tantangan pengelolaan daerah aliran sungai di banyak wilayah Indonesia yang rawan bencana hidrometeorologi, sehingga membutuhkan komitmen kebijakan yang lebih tegas dan berkelanjutan.
