News
Aceh Kehilangan Hutan: Pemimpin Tak Berani Lawan Kebijakan Korup
01 Januari 2026 12:22
Kerusakan hutan di Aceh terus berlanjut akibat kebijakan korup pemerintah pusat yang tidak berani ditentang oleh pemimpin lokal. Afrizal Akmal, inisiator Hutan Wakaf, menyatakan bahwa Aceh memiliki aturan yang cukup untuk melindungi hutan, namun kekurangan pemimpin yang berani menata ulang relasi kekuasaan dalam pengelolaan sumber daya alam.
Tanpa adanya pemimpin yang berani bersuara, bencana banjir dan tanah longsor akan terus berulang di Aceh. Hutan Aceh tidak hanya menjadi korban penebangan, tetapi juga korban dari sistem yang membiarkan kehancuran terjadi atas nama pembangunan.
Dampak Kerusakan Hutan
- Banjir dan tanah longsor terus berulang di Aceh akibat kerusakan hutan.
- Sungai-sungai kecil yang dahulu menjadi sumber air bersih kini keruh dan tercemar lumpur serta limbah tambang.
- Ribuan hektare hutan di kawasan hulu Krueng Peusangan hilang dalam beberapa tahun terakhir.
- Pendangkalan sungai, banjir musiman, dan krisis air bersih menjadi dampak yang dirasakan oleh warga.
Kewenangan Pemerintah Daerah
- Pemerintah daerah sering kali tidak memiliki kuasa untuk menghentikan aktivitas perusakan hutan.
- Ketika terjadi pelanggaran, pemerintah daerah hanya menjadi penonton atau sekadar pengirim laporan yang tak pernah ditindaklanjuti.
- Daerah menanggung bencana akibat keputusan pemerintah pusat, namun tidak diberikan kewenangan untuk mencegahnya.
Sistem Tata Kelola
- Kebijakan kehutanan dan pertambangan dirumuskan dengan logika nasional yang seragam, mengabaikan kompleksitas sosial-ekologis Aceh.
- Pemerintah daerah tidak lebih dari operator administratif, tanpa kewenangan penuh untuk bertindak.
- Model tata kelola ini menciptakan kekosongan tanggung jawab, di mana tidak ada pihak yang sepenuhnya bertanggung jawab atas kehancuran yang terjadi.
Afrizal Akmal menekankan bahwa perubahan arah kebijakan pembangunan harus dilakukan oleh Pemerintah Aceh untuk memastikan hutan dan ekosistem yang ada tidak dikorbankan. Tanpa perubahan ini, yang tersisa dari Aceh hanyalah foto-foto tentang hutan dan satwa-satwa eksotis di dalamnya.
