News
Gotong Royong TNI dan Warga Bangun Jembatan Darurat di Ketol Aceh Tengah
6 hari yang lalu
Di tengah derasnya arus sungai dan medan yang terjal, semangat gotong royong antara prajurit TNI dan masyarakat di Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, tak sedikit pun surut. Ratusan warga bersama personel TNI bahu-membahu mengangkat kayu balok melintasi sungai demi menghadirkan kembali akses penghubung kehidupan bagi masyarakat setempat. Pemandangan ini bukan sekadar aktivitas pembangunan fisik, melainkan potret nyata ketulusan, pengorbanan, dan harapan yang menyatu di tengah keterbatasan.
Pembangunan jembatan darurat gantung di Desa Burlah terus menunjukkan perkembangan yang signifikan. Jembatan ini menjadi urat nadi penghubung ruas jalan antar desa, mulai dari Desa Kala Ketol, Desa Burlah, Desa Kekuyang, Desa Buge Ara, hingga Desa Bintang Pepara. Sebelumnya, terputusnya akses ini sangat menyulitkan aktivitas masyarakat, baik dalam bidang ekonomi, pendidikan, pelayanan kesehatan, maupun mobilitas sehari-hari.
Proses Pembangunan
- 6 personel Koramil 09/Ketol, 20 personel Yon TP 854/DK, dan 31 personel Yon Zipur 6/DS terlibat dalam pembangunan jembatan.
- 150 warga masyarakat setempat turut ambil bagian secara sukarela, menunjukkan kuatnya sinergi antara aparat TNI dan rakyat.
- Proses pengambilan kayu balok (glogor) dilakukan secara manual karena kondisi medan yang curam dan terjal.
- Seluruh material diangkut secara bertahap menyesuaikan kondisi medan dan akses menuju lokasi.
Dampak dan Harapan
- Jembatan darurat ini diharapkan dapat memulihkan akses ekonomi, pendidikan, dan kesehatan masyarakat setempat.
- Keberadaan jembatan ini juga menjadi simbol bahwa dalam situasi sulit sekalipun, negara hadir dan berdiri bersama rakyatnya.
- Dengan adanya jembatan ini, masyarakat Desa Burlah dan desa-desa sekitarnya akan kembali merasakan kemudahan akses antarwilayah.
Meski dihadapkan pada tantangan alam yang tidak ringan serta keterbatasan sarana dan prasarana, semangat kebersamaan menjadi kekuatan utama dalam setiap tahapan pekerjaan. Setiap kayu yang dipanggul, setiap langkah yang diayunkan di dalam arus sungai, menjadi bukti bahwa jembatan ini dibangun bukan hanya dari besi dan semen, melainkan juga dari harapan, kepedulian, dan rasa saling memiliki.
