News
600 Huntara Siap Tempati Warga Aceh Tamiang Pasca Bencana Banjir
5 hari yang lalu
PT Waskita Karya (Persero) Tbk bersama Danantara secara simbolis menyerahkan 600 hunian sementara (huntara) kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang di Jakarta, Jumat (9/1/2026). Penyerahan ini menandai selesainya pembangunan huntara yang ditujukan untuk warga terdampak bencana banjir dan longsor di Aceh Tamiang.
Huntara dilengkapi dengan fasilitas dasar seperti MCK, musala, dapur umum, dan sistem pengolahan air limbah. Bupati Aceh Tamiang, Armia Pahmi, menyatakan bahwa 100 unit huntara akan didistribusikan secara bertahap untuk memastikan adaptasi warga berjalan mulus. Warga dari Desa Sukajadi siap menempati huntara yang telah selesai dibangun pada tahap pertama.
Detail Pembangunan Huntara
- 600 unit huntara dengan ukuran 4,5 x 4,5 meter.
- Fasilitas pendukung: MCK, musala, dapur umum, dan sistem pengolahan air limbah.
- Distribusi bertahap: 100 unit pertama untuk adaptasi warga.
- Pembangunan cepat: Waskita Karya menyelesaikan puluhan rumah dalam waktu enam hari.
Komitmen Pemulihan
Direktur Utama Waskita Karya, Muhammad Hanugroho, menyatakan bahwa pembangunan huntara merupakan bagian dari komitmen untuk membantu pemulihan pasca bencana. Selain Aceh Tamiang, Waskita Karya juga sedang membangun 314 unit huntara di Aceh Utara untuk wilayah Simpang Tiga, Tanjong Dalam Selatan, dan Leubok Meuku.
Dampak Sosial
Huntara ini diharapkan dapat memberikan ruang bagi keluarga untuk kembali menjalani kehidupan sehari-hari. Pemulihan tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pada pemulihan layanan dasar bagi warga terdampak bencana.
Sinergi Pemerintah dan BUMN
Wamendagri Bima Arya mengapresiasi sinergi antara Danantara dan BUMN Karya, yang dianggap sebagai contoh luar biasa yang dapat menginspirasi wilayah lain. Kolaborasi ini menunjukkan komitmen bersama dalam membantu pemulihan pasca bencana di Aceh Tamiang.
Dengan adanya huntara ini, diharapkan warga yang terdampak bencana dapat segera pulih dan menata hidupnya kembali. Upaya pemulihan ini bukan hanya tanggung jawab Aceh atau Sumatera, tetapi dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia.
