Timeline Aceh
serambinews.com
serambinews.com

Wisata Empatik Gayo: Strategi Pemulihan Ekonomi Pascabencana

31 Desember 2025 09:26

Hujan ekstrem yang dipicu Siklon Tropis Senyar pada akhir November 2025 menjadikan Aceh etalase krisis hidrometeorologi di Indonesia. Dalam waktu singkat, 18 kabupaten/kota terdampak, ratusan kecamatan tergenang, 38 ruas jalan nasional dan 16 jembatan rusak, sementara sawah, ladang, kebun kopi, dan usaha kecil tersapu arus atau tertimbun lumpur. Kerusakan ini langsung menyentuh rumah tangga di dataran tinggi Gayo yang bergantung pada pertanian dan jasa.

Di tengah gelombang berita tentang jalan terputus, jembatan hanyut, dan pengungsi yang kian bertambah, ada satu sektor yang jarang muncul di tajuk utama tetapi ikut menentukan panjang pendek fase pemulihan: pariwisata. Laporan media menyebut hampir 80 persen destinasi wisata di Aceh terdampak banjir dan longsor, dari objek wisata sungai dan pantai hingga kawasan pegunungan seperti Takengon dan sekitarnya. Homestay yang dulu penuh, warung kopi yang ramai, serta jasa pemandu kini sepi karena citra “Aceh sedang lumpuh” menahan wisatawan untuk datang.

Wisata Empatik sebagai Strategi Pemulihan

Pariwisata justru bisa menjadi salah satu jalan sunyi pemulihan ekonomi, terutama di dataran tinggi Gayo. Akses utama menuju Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues mulai berangsur fungsional kembali, meski di beberapa titik masih mengandalkan jalan alternatif dan jembatan darurat.

  • Sirkulasi Ekonomi: Di saat jalur distribusi komoditas ke luar daerah masih rapuh, menghadirkan wisatawan langsung ke sumber produksi dan ruang hidup masyarakat dapat menjadi strategi sirkulasi ekonomi yang lebih cepat. Wisatawan yang datang menikmati kopi dan lanskap, pada saat yang sama, menjadi pasar bergerak bagi produk pertanian yang sulit keluar karena jalan rusak.

  • Ketangguhan Komunitas: Sejumlah kajian menunjukkan bahwa ketika pariwisata dikelola secara berkelanjutan dan berbasis komunitas, ia dapat mempercepat pemulihan pendapatan, menjaga lapangan kerja lokal, dan memperkuat ketangguhan di wilayah rawan bencana. Dataran tinggi Gayo, dengan Danau Lut Tawar, kebun kopi dan sayur dataran tinggi, udara sejuk, dan budaya yang khas, memiliki modal lebih dari cukup untuk menjadi episentrum pemulihan semacam ini.

Pendekatan Etis dalam Pariwisata Pascabencana

Pertanyaan etis lalu muncul, pantaskah mengajak orang berwisata ke wilayah yang baru saja tertimpa bencana? Literatur pariwisata pascabencana membedakan antara wisata bencana (dark tourism) yang mengeksploitasi tragedi dan wisata berorientasi ketangguhan yang dirancang serta dikendalikan bersama komunitas terdampak. Dalam pendekatan kedua, wisatawan tidak datang untuk “melihat puing dan air mata”, melainkan untuk belajar tentang adaptasi, mendukung usaha lokal, dan ikut menyalakan kembali roda ekonomi.

  • Wisata Empatik: Di Gayo, konsep “wisata empatik” dapat menjadi jalan tengah antara kebutuhan ekonomi dan martabat korban. Wisata empatik berarti kunjungan hanya ke zona yang sudah dinyatakan aman oleh otoritas, bukan ke lokasi evakuasi aktif atau rumah yang baru runtuh. Narasi yang diangkat adalah kisah warga yang bangkit, praktik gotong-royong, dan upaya adaptasi di lereng yang rentan, bukan estetisasi kerusakan.

  • Dana Komunitas: Paket wisata dirancang agar sebagian pendapatannya secara transparan mengalir ke dana komunitas: perbaikan irigasi, pengadaan bibit, atau pemulihan alat produksi UMKM. Wisatawan datang bukan sekadar sebagai penikmat lanskap, tetapi sebagai mitra pemulihan yang sadar bahwa uang yang mereka belanjakan menjadi oksigen bagi usaha kecil yang hampir kehabisan napas.

Kolaborasi Pentahelix untuk Pemulihan Pariwisata

Pariwisata tidak akan bangkit hanya dengan seruan “mari datang ke Gayo”. Pengalaman revitalisasi pariwisata di wilayah lain yang pernah dilanda bencana menunjukkan bahwa sinergi pentahelix--pemerintah, pelaku usaha, komunitas, akademisi, dan media--menjadi prasyarat penting pemulihan destinasi.

  • Peran Pemerintah: Pemerintah memegang peran kunci dalam menjamin keamanan dasar, mulai dari pemulihan infrastruktur hingga regulasi tata ruang yang memasukkan risiko bencana ke dalam perencanaan destinasi. Di Aceh, data penanganan memperlihatkan bahwa sebagian besar ruas jalan ke Gayo sudah fungsional, sementara beberapa jembatan yang putus sudah memiliki pengganti sementara.

  • Peran Pelaku Usaha: Pelaku usaha lokal--komunitas kopi, pengelola homestay, penyedia jasa wisata--dapat merespons dengan merancang paket “Wisata Peduli Gayo”. Dalam paket seperti ini, tamu menikmati kopi dan panorama Danau Lut Tawar sambil menyimak penjelasan pemandu tentang sistem peringatan dini, jalur evakuasi, dan praktik budidaya yang lebih ramah terhadap lereng rawan longsor.

  • Peran Akademisi: Akademisi di Aceh memiliki kesempatan menjembatani bukti dan kebijakan. Pemetaan desa wisata, penghitungan dampak ekonomi kunjungan, dan penyusunan “kode etik wisata empatik” Gayo merupakan kontribusi konkret yang dapat langsung terhubung dengan kebutuhan kebijakan di kabupaten dan provi

Wisata Empatik Gayo: Strategi Pemulihan Ekonomi Pascabencana
0123456789