Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPC GMNI) Bener Meriah mengkritik rencana pembentukan Panitia Khusus (Pansus) Bencana oleh DPRK setempat. Pansus tersebut dinilai berpotensi hanya menjadi kegiatan seremonial tanpa menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat terdampak bencana.
Sekretaris DPC GMNI Bener Meriah, Aji Feprizal, menyebutkan praktik pansus kerap tidak efektif dalam pelaksanaan di lapangan. "Pansus sering kali hanya garang dalam rapat, tetapi tumpul dalam implementasi. Kami khawatir ini hanya menjadi ajang ‘wisata politik’ berkedok pengawasan," kata Aji.
Kritikan dan Tuntutan GMNI
- Transparansi Anggaran: GMNI menuntut transparansi anggaran pansus untuk mencegah potensi penyalahgunaan dana tanggap darurat.
- Kepastian Jadup: GMNI meminta kepastian jadwal pencairan jaminan hidup (jadup) bagi masyarakat terdampak.
- Pembangunan Huntara: GMNI menekankan pentingnya pembangunan hunian sementara (huntara) dan hunian tetap (huntap) yang optimal.
- Audit Dana: GMNI meminta adanya audit menyeluruh terhadap penggunaan dana tanggap darurat.
Tenggat Waktu dan Ancaman Pembatalan
GMNI memberikan tenggat waktu satu bulan kepada Pansus, jika nantinya dibentuk, untuk menunjukkan kinerja yang konkret. Jika tidak, pansus tersebut dinilai gagal sejak awal. "Jika pansus hanya menjadi kedok kegiatan tanpa hasil, lebih baik dibatalkan," tegas Aji.
Dampak terhadap Masyarakat
Menurut GMNI, masyarakat Bener Meriah yang masih berjuang pascabencana membutuhkan kepastian tempat tinggal dan keberlanjutan hidup, bukan kunjungan yang berujung pada laporan tanpa tindak lanjut. "Rakyat butuh kepastian tempat tinggal dan keberlanjutan hidup, bukan kunjungan yang berujung pada laporan tanpa tindak lanjut," ujar Aji.
Kesimpulan
GMNI Bener Meriah mengingatkan bahwa bencana tidak boleh dijadikan sebagai ruang kepentingan politik. "DPRK harus menjadi penyambung aspirasi masyarakat, bukan justru terjebak dalam kegiatan seremonial," pungkas Aji.
Baca Artikel di Sumber Asli
Dapatkan informasi lengkap dari kanal terpercaya.
Populer Pekan Ini
Semua Berita:Khawatir Tenang, Warga Aceh Menunggu Pemulihan Listrik dari PLN
“Seluruh Aceh saat ini tengah dilakukan pemeriksaan atas gangguan sistem kelistrikan yang terjadi di daerah kita,” kata Lukman Hakim
Warga Aceh Khawatir: Imunisasi 33%, Kasus Campak Naik","PublicImpact":85,"Credibility":90,"Urgency":80,"Evidence":85,"LongTermValue":80,"Education":85,"FinalScore":85,"Summary":"Cakupan imunisasi di_A
BANDA ACEH - Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Republik Indonesia, Dante Saksono Harbuwono, mengatakan cakupan imunisasi di Aceh masih rendah dan...
.Warga Beutong Nagan Raya, Aceh Takut Tambang Ancam Sumber Air
KBA.ONE, BANDA ACEH—Sejumlah organisasi masyarakat sipil di Aceh mendesak pemerintah pusat dan Pemerintah Aceh menghentikan seluruh rencana maupun aktivitas pertambangan di Beutong Ateuh Ban
Warga Aceh Tak Daya Tahan Akibat Blackout Sumatera Berulang
Penulis: Dr. Andree Armilis, M.A. Sosiolog & Analis Stratejik, warga Sumatera. Transaksi digital terganggu akibat jaringan internet dan mesin pembayaran mati. PEMADAMAN listrik massal yang m


Diskusi Hangat
0 Kontribusi Komunitas
Suara Anda Sangat Berarti
Jadilah pionir dalam diskusi ini.