Timeline Aceh
serambinews.com
serambinews.com

Lebaran di Pengungsian Gayo Lues: Tangis Tertahan di Balik Takbir

2 jam yang lalu

Malam takbiran di Gayo Lues tetap bergema, namun di balik gema itu, ada tangis yang tertahan. Ratusan korban bencana hidrometeorologi merayakan Lebaran bukan di rumah, melainkan di tenda pengungsian. Mereka kehilangan rumah dan harus bertahan dengan keterbatasan, namun tetap mempertahankan harapan.

Di Desa Sere, Kecamatan Blangkejeren, Salludin hanya bisa menatap kosong ke arah luar tenda. Ia kehilangan rumah dan dapur tempat keluarganya memasak hidangan Lebaran. Kini, ia tinggal bersama ratusan jiwa lainnya di pengungsian.

Kehidupan di Pengungsian

  • Ratusan jiwa tinggal di tenda pengungsian di Desa Sere, Kecamatan Blangkejeren.
  • Mereka kehilangan rumah dan harus bertahan dengan keterbatasan makanan dan bantuan.
  • Anak-anak masih mencoba tertawa dan bermain, namun pertanyaan polos mereka membuat hati teriris.
  • Para ibu tersenyum saat menyambut tamu, namun di balik senyum itu, ada kekosongan yang tak bisa disembunyikan.

Harapan yang Memudar

  • Janji percepatan relokasi belum terwujud, dan bantuan mulai berkurang.
  • Mereka tetap bertahan dan saling menguatkan, meski harapan sempat tumbuh kini perlahan memudar.
  • Lebaran bagi mereka bukanlah tentang kemenangan, melainkan tentang bertahan sambil menunggu janji yang entah kapan akan benar-benar ditepati.

Di tengah gema takbir yang terus berkumandang, ada doa-doa lirih yang mungkin tak terdengar oleh banyak orang. Mereka hanya ingin hidup mereka kembali.

Lebaran di Pengungsian Gayo Lues: Tangis Tertahan di Balik Takbir