Kembaliekonomi

, 15)}, 281}], 19], 38], 52], 76]} null 90]}]}, 90], 61], 75], 91]} 32], 30]} 75]}, 62]}, 69]}], 19]} 35]}, 82]}, 61]} 60]}], 30]}, 85]} 75]}, 70]}], 33]} 60]}, 55]}, 45]} 58]}]}, 70]}, 68]}]}, 78]} 6

Penulis

serambinews.com

Tanggal

10 Mei 2026

, 15)}, 281}], 19], 38], 52], 76]} null 90]}]}, 90], 61], 75], 91]} 32], 30]} 75]}, 62]}, 69]}], 19]} 35]}, 82]}, 61]} 60]}], 30]}, 85]} 75]}, 70]}], 33]} 60]}, 55]}, 45]} 58]}]}, 70]}, 68]}]}, 78]} 6

Aceh menghadapi ketidakseimbangan pasar kerja yang terlihat dari angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 5,88 persen, namun di balik angka tersebut tersembunyi struktur ekonomi yang rapuh.

Data BPS Aceh menunjukkan jumlah pengangguran naik 7.430 orang sementara jumlah pekerja turun lebih dari 55 ribu, dan hingga 64,15 persen tenaga kerja bekerja di sektor informal tanpa kontrak atau perlindungan sosial.

Faktor yang Menggerakkan Ketidakstabilan Pasar Kerja Aceh

  • Dominasi sektor informal mencapai 64,15% tenaga kerja, menandakan mayoritas pekerja tanpa jaminan kerja.
  • Jumlah pekerja terkaya menurun lebih dari 55 ribu orang, sementara pengangguran naik 7.430 orang.
  • Aktivitas ekonomi masih berpusat di perdagangan harian dan pengolahan bahan mentah, dengan nilai tambah besar yang mengalir ke luar Aceh.
  • Sektor perikanan di TPI Lampulo, Idi Rayeuk, dan Tapaktuan masih berfungsi sebagai tempat lelang, belum memiliki industri pengolahan dan penyimpanan dingin terpadu.
  • Komoditas unggulan seperti kopi Gayo dan kelapa sawit menghasilkan nilai tambah yang sebagian besar diolah dan dipasarkan di luar daerah.
  • Kebijakan diperlukan yang fokus pada stabilisasi pasar kerja, formalisasi UMKM, dan hilirisasi sektor primer untuk menciptakan pekerjaan produktif.
Verifikasi Konten

Baca Artikel di Sumber Asli

Dapatkan informasi lengkap dari kanal terpercaya.

Kunjungi Website

Diskusi Hangat

0 Kontribusi Komunitas

Suara Anda Sangat Berarti

Jadilah pionir dalam diskusi ini.