Petani sawit di Aceh menghadapi prospek perubahan kebijakan ekspor yang dipimpin presiden Prabowo, yang menekankan sentralisasi melalui badan atau mekanisme terpusat. Kebijakan inidiperkirakan dapat meningkatkan pengawasan dan penerimaan negara, namun juga menimbulkan risiko pengendalian harga yang menyeret pengalaman Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh (BPPC) pada era 1990‑an.
Sejarah BPPC dan Pelajaran untuk Sawit
- BPPC pernah memonopoli pembelian dan distribusi cengkeh nasional, menyebabkan harga petani jatuh karena tidak ada akses ke pasar terbuka.
- Petani cengkeh di Aceh, Sulawesi, Maluku, dan Jawa mengalami kerugian besar saat harga dikendalikan secara sentralistik.
- Luas areal cengkeh Aceh naik dari 15.294,7 hektar (1976) menjadi 25.950 hektar (2023), dengan produksi 5.727 ton dan produktivitas rata‑rata 599 kg/ha.
- Pusat produksi cengkeh bergeser dari Aceh Barat ke Simeulue (sekitar 16.011 hektar) sementara Aceh Besar tetap penting dengan 5.005 hektar.
- Sentralisasi ekspor sawit, yang saat ini menguasai lebih separuh pasar global, berpotensi mengulangi pola monpoly yang mempersempit tawar negoisasi petani.
- Pendukung kebijakan arguemen bahwa negara perlu memperkuat kontrol atas sumber daya strategis untuk memastikan manfaat fiskal yang lebih besar bagi negara dan masyarakat.
Artini menyoroti bahwa sejarah BPPC menjadi peringatan penting: penggunaan kekuatan negara dalam perdagangan komoditas strategis harus dijaga agar tidak menghilangkan mekanisme pasar yang adil dan menurunkan kesejahteraan petani rakyat di Aceh.
Baca Artikel di Sumber Asli
Dapatkan informasi lengkap dari kanal terpercaya.
Populer Pekan Ini
Semua BeritaKhawatir: Dayah Aceh menerima laptop spesifikasi rendah, kerugian Rp42,5 juta
Dari faktur pembelian yang ditelusuri pemeriksa, diketahui CV Indobina Karya membeli laptop dengan harga riil sekitar Rp15,1 juta per unit. Artinya, terdapat selisih harga hampir Rp9 juta pe
Petani Tangse Terluka Saat Usir Gajah, Dirawat RSUD Sigli ","PublicImpact":80,"Credibility":85,"Urgency":90,"Evidence":70,"LongTermValue":70,"Education":60,"FinalScore":80,"Summary":"Petani dari Tangs
Rusli M Husen (54) warga Dusun Alue Rimeh, Gampong Beungga, Kecamatan Tangse, Pidie, Selasa (26/5/2026) sekitar pukul 10.00 WIB, menjadi sasaran
:Investasi Rp 200 T di Nagan Raya, Siap Serap 80.000 Pekerja
Nagan Raya saat ini bersiap menyambut investasi jumbo senilai Rp 200 triliun yang diklaim akan menjadi salah satu proyek terbesar di Aceh
Aceh Masih Gulang Listrik, Hasballah Desak Kemandirian Energi
Gangguan yang terus berulang menunjukkan bahwa sistem interkoneksi tersebut tidak berjalan efektif dan justru merugikan masyarakat Aceh.


Diskusi Hangat
0 Kontribusi Komunitas
Suara Anda Sangat Berarti
Jadilah pionir dalam diskusi ini.