News
Di Balik Senyum Presiden: Warga Aceh Tamiang Masih Hidup di Tenda Pengungsian
2 jam yang lalu
Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa warga Aceh Tamiang sudah tidak lagi tinggal di tenda pengungsian. Namun, realitas di lapangan menunjukkan hal yang berbeda. Di Kampung Durian, tenda pengungsi masih berdiri di kompleks kuburan Tionghoa, sementara di Kota Lintang, keluarga seperti Fahmi masih menggunakan terpal sebagai atap rumah mereka.
Data dari BNPB per 8 Desember 2025 menunjukkan bahwa 961 jiwa meninggal, 293 hilang, 962.200 mengungsi, 157.600 rumah hancur, 258 sekolah ambruk, dan 312 jembatan putus di Aceh. Namun, laporan resmi seringkali menutupi kegagalan pemulihan dengan klaim bahwa hampir 100 persen pulih.
Realitas di Lapangan
- Warga masih tinggal di tenda: Di berbagai wilayah seperti Babo, Bireuen, Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Utara, dan Pidie Jaya, ratusan hingga ribuan warga masih mengungsi.
- Sekolah dan infrastruktur rusak: 258 sekolah ambruk dan 312 jembatan putus, membuat aktivitas pendidikan dan transportasi terhambat.
- Politik citra: Upaya untuk menyembunyikan realitas dengan menghilangkan tenda saat kunjungan presiden, menciptakan ilusi pemulihan.
Dampak Jangka Panjang
- Trauma dan ketidakpastian: Warga seperti Fahmi dan keluarganya masih hidup dalam ketidakpastian, dengan rumah yang hancur dan sekolah yang rusak.
- Kegagalan pemulihan: Pemulihan yang lamban dan laporan yang tidak akurat memperburuk kondisi warga yang sudah rentan.
- Kebutuhan mendesak: Aceh membutuhkan atap yang layak, sekolah yang aman, dan jembatan yang berfungsi, bukan hanya laporan yang menyenangkan atasan.
Presiden Prabowo Subianto perlu melihat realitas dengan mata kepalanya sendiri, bukan melalui laporan yang disusun untuk menyenangkan atasan. Warga Aceh membutuhkan tindakan nyata, bukan pencitraan semu.
