News
WFH Kampus Aceh: Penghematan BBM atau Ancaman Kualitas Pendidikan?
4 jam yang lalu
Wacana penerapan work from home (WFH) di perguruan tinggi Aceh mulai ramai dibicarakan. Skema yang ditawarkan umumnya adalah empat hari perkuliahan tatap muka yang diikuti satu hari belajar dari rumah, sering kali dijadwalkan pada hari Jumat. Kebijakan ini disebut sebagai upaya menghemat energi, terutama bahan bakar minyak (BBM). Namun, efektivitasnya masih patut dipertanyakan.
Secara konsep, pengurangan aktivitas ke kampus memang dapat menekan penggunaan kendaraan. Mahasiswa tidak perlu bepergian, sehingga konsumsi BBM bisa berkurang. Akan tetapi, realitas di lapangan tidak selalu sejalan dengan teori tersebut. Penempatan WFH pada hari Jumat justru menimbulkan persoalan baru karena berpotensi dimanfaatkan mahasiswa untuk bepergian dan pulang kampung, berlibur, atau sekadar berkumpul bersama teman.
Dampak terhadap Kualitas Pendidikan
- Pengalaman selama pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa pembelajaran daring memiliki banyak kendala, seperti kesulitan memahami materi, kurang fokus, dan menurunnya motivasi belajar.
- Risiko learning loss yang berdampak pada kualitas pendidikan dalam jangka panjang.
- Kurangnya disiplin dan kecenderungan malas mengikuti pelajaran jika pembelajaran daring diterapkan tanpa persiapan matang.
Pertanyaan Mendasar
- Mengapa kebijakan penghematan energi difokuskan pada sektor pendidikan? Padahal, masih banyak sektor lain yang memiliki konsumsi energi jauh lebih besar dan lebih relevan untuk dioptimalkan, seperti industri, transportasi umum, atau perkantoran.
- Apakah kebijakan ini benar-benar efektif? Jika tujuannya benar-benar efisiensi energi, kebijakan seharusnya diarahkan pada sektor yang memberikan dampak signifikan, bukan pada dunia pendidikan yang berisiko mengorbankan kualitas pembelajaran.
Pada akhirnya, penghematan energi tidak cukup hanya dengan mengurangi hari kehadiran di kampus atau sekolah. Dibutuhkan kebijakan yang lebih menyeluruh serta kesadaran individu agar tujuan tersebut benar-benar dapat tercapai tanpa mengorbankan kualitas pendidikan.
