Kebijakan Work From Home (WFH) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di Aceh setiap hari Jumat menuai kritik dari Masyarakat Transparansi Aceh (MaTA). Koordinator MaTA, Alfian, menyoroti potensi penyalahgunaan kebijakan ini sebagai libur panjang terselubung, mengingat rendahnya disiplin birokrasi di lingkungan ASN.
Alfian menekankan pentingnya transparansi kinerja ASN selama WFH dan mendesak pemerintah untuk memperkuat sistem pengawasan. Kebijakan ini tertuang dalam Surat Edaran Gubernur Aceh dan bertujuan untuk menghemat energi dan BBM, namun tidak berlaku bagi ASN di layanan publik langsung.
Kritik dan Kekhawatiran
- Disiplin Birokrasi: Alfian menilai kedisiplinan ASN masih lemah, dengan banyak ASN yang terlihat nongkrong di warung kopi saat jam kerja.
- Transparansi Kinerja: MaTA menyoroti minimnya mekanisme transparansi terhadap kinerja ASN saat WFH, yang berpotensi disalahgunakan untuk bepergian ke luar daerah.
- Pengawasan Ketat: Alfian menekankan perlunya pengawasan ketat agar tujuan kebijakan, yakni efisiensi energi dan penghematan BBM, benar-benar tercapai.
Kebijakan WFH ASN Aceh
- Jam Kerja: ASN diwajibkan bekerja di kantor dari Senin hingga Kamis dengan jam kerja pukul 08.00–16.45 WIB. Pada hari Jumat, ASN diperbolehkan bekerja dari rumah.
- Pengecualian: Kebijakan ini tidak berlaku bagi ASN yang bertugas di layanan publik yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, seperti kesehatan, pendidikan, perizinan, Samsat, maupun layanan kedaruratan.
- Absensi dan Pelaporan: ASN yang menjalankan WFH diwajibkan melakukan absensi serta melaporkan hasil kerja melalui sistem e-kinerja.
Harapan dan Desakan
- Efisiensi Energi: Pemerintah Aceh berharap kebijakan ini dapat menghemat energi dan biaya operasional.
- Pengawasan Masyarakat: MaTA mendesak agar Pemerintah Aceh memperkuat sistem pengendalian dan transparansi, sehingga masyarakat bisa menilai kinerja ASN secara objektif.
- Peningkatan Produktivitas: Alfian menegaskan, kebijakan WFH seharusnya menjadi sarana peningkatan produktivitas, bukan celah untuk mengurangi beban kerja.
Baca Artikel di Sumber Asli
Dapatkan informasi lengkap dari kanal terpercaya.
Populer Pekan Ini
Semua BeritaKhawatir: Dayah Aceh menerima laptop spesifikasi rendah, kerugian Rp42,5 juta
Dari faktur pembelian yang ditelusuri pemeriksa, diketahui CV Indobina Karya membeli laptop dengan harga riil sekitar Rp15,1 juta per unit. Artinya, terdapat selisih harga hampir Rp9 juta pe
Petani Tangse Terluka Saat Usir Gajah, Dirawat RSUD Sigli ","PublicImpact":80,"Credibility":85,"Urgency":90,"Evidence":70,"LongTermValue":70,"Education":60,"FinalScore":80,"Summary":"Petani dari Tangs
Rusli M Husen (54) warga Dusun Alue Rimeh, Gampong Beungga, Kecamatan Tangse, Pidie, Selasa (26/5/2026) sekitar pukul 10.00 WIB, menjadi sasaran
Aceh Masih Gulang Listrik, Hasballah Desak Kemandirian Energi
Gangguan yang terus berulang menunjukkan bahwa sistem interkoneksi tersebut tidak berjalan efektif dan justru merugikan masyarakat Aceh.
:Investasi Rp 200 T di Nagan Raya, Siap Serap 80.000 Pekerja
Nagan Raya saat ini bersiap menyambut investasi jumbo senilai Rp 200 triliun yang diklaim akan menjadi salah satu proyek terbesar di Aceh


Diskusi Hangat
0 Kontribusi Komunitas
Suara Anda Sangat Berarti
Jadilah pionir dalam diskusi ini.