Perempuan Aceh tidak hanya menjadi kelompok terdampak dalam krisis iklim, tetapi juga memainkan peran kunci dalam menjaga hutan dan keberlanjutan lingkungan. Melalui organisasi seperti Women Forest Defenders (WFD) dan Perempuan Peduli Leuser, mereka menunjukkan kontribusi nyata dalam konservasi lingkungan di tingkat tapak.
Peran Nyata Perempuan Aceh dalam Konservasi Hutan
-
Nurhalimah, Ketua Women Forest Defenders (WFD) dan Wakil Ketua Lembaga Pengelola Hutan Adat Mukim Kunyet, Pidie, menekankan bahwa menjaga hutan berarti menjaga kehidupan. Dia menyampaikan hal ini dalam forum diskusi "Dari Emansipasi ke Aksi Iklim: Memperkuat Kesetaraan Gender" di UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.
-
Kartini dari Perempuan Peduli Leuser di Stasiun Penelitian Soraya, Subulussalam, berbagi pengalaman bahwa setiap peran, sekecil apa pun, berkontribusi dalam upaya konservasi. Dia belajar bahwa hutan adalah tempat menjaga kehidupan, termasuk dari dapur.
-
Cut Maila Hanum, Akademisi STIK Pante Kulu, menyoroti pentingnya pemikiran kritis dan rencana aksi nyata dalam penguatan kepemimpinan perempuan dalam aksi iklim. Dia juga memetakan masih terbatasnya pelibatan perempuan dalam kebijakan lingkungan.
Pentingnya Partisipasi Perempuan dalam Kebijakan Lingkungan
-
Forum diskusi ini menjadi refleksi untuk melihat kembali peran yang bisa perempuan ambil dalam menghadapi krisis iklim.
-
Akademisi mendorong generasi muda untuk memahami dan mengawasi anggaran lingkungan, memastikan bahwa kebijakan lingkungan lebih inklusif dan berkelanjutan.
-
Peran perempuan dalam konservasi hutan tidak hanya penting untuk lingkungan, tetapi juga untuk kehidupan masyarakat Aceh secara keseluruhan.
Baca Sumber Asli
Ingin memverifikasi informasi lebih lanjut?

