Petani garam tradisional di Gampong Lancok, Kecamatan Syamtalira Bayu, Aceh Utara, masih menanggung akibat banjir besar yang terjadi pada 26 November 2025. Air banjir telah menggerus dan menutupi lahan produksi, mengubahnya menjadi muara sungai serta menghancurkan 42 dapur produksi beserta peralatan pendukungnya.
Dampak Ekonomi dan Sosial
- Produksi garam saat ini hanya 13‑14 bambu per hari, drastis menurun dari 30‑40 bambu sebelum bencana.
- Modal yang dikeluarkan untuk bibit sebesar Rp 55 ribu per 10 kg, sementara hasil jual hanya Rp 9 ribu per bambu ke agen dan Rp 13‑14 ribu di pasaran.
- Biaya bakar kayu mencapai Rp 100 ribu per becak, menambah beban finansial petani yang sudah tidak stabil.
- Luas lahan produksi yang terendam banjir mencapai sekitar 2 hektare, menyulut seluruh lokasi tradisional yang digunakan selama bertahun-tahun.
Kebutuhan Bantuan
Petani meminta dukungan khusus berupa:
- Bibit garam untuk mengisi kekurangan lahan.
- Kayu bakar yang terjangkau agar proses pembakaran bisa berlanjut.
- Modal usaha untuk membangun kembali dapur yang lenyap dan mengembalikan kapasitas produksi.
Harapan dan Upaya Mandiri
Sementara menunggu respons pemerintah, petani sendiri memperbaiki gubuk dapur dengan sisa modal yang ada. Mereka berharap agar bantuan segera datang sehingga dapat memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, menopang pendidikan anak-anak, dan melanjutkan kehidupan pascabencana tanpa tergantung pada bantuan darurat terus-menerus.
Baca Artikel di Sumber Asli
Dapatkan informasi lengkap dari kanal terpercaya.
Populer Pekan Ini
Semua Berita:Petani Garam Lancok Khawatir, Penghasilan Rosak Akibat Banjir 42 Dapur
ACEH UTARA - Puluhan petani garam tradisional terdampak banjir besar di Gampong Lancok, Kecamatan Syamtalira Bayu, Aceh Utara, hingga kini luput dari...
Empati Warga Kembang Tanjong Pada Jalan Inpres Rp24 Miliar di Aceh
Wakil Gubernur Aceh, Fadhlullah (Dek Fadh), meninjau pembangunan jalan Inpres di Kecamatan Kembang Tanjong, Pidie senilai Rp 24 miliar.
Enam bulan di tenda, tiga keluarga Bireiu menunggu hunian","PublicImpact":85,"Credibility":80,"Urgency":80,"Evidence":60,"LongTermValue":70,"Education":65,"FinalScore":78,"Summary":"Enam bulan setelah
BIREUEN — Air mata Fitriani tak lagi bisa ditahan. Sudah enam bulan ia bersama suami dan dua anaknya bertahan hidup di bawah tenda darurat...
Warga Aceh khawatir, minta evaluasi sistem daycare setelah kasus kekerasan
BANDA ACEH – Direktur Eksekutif Flower Aceh, Riswati, mendesak evaluasi total terhadap sistem daycare di Aceh, mulai dari perlindungan anak,...


Diskusi Hangat
0 Kontribusi Komunitas
Suara Anda Sangat Berarti
Jadilah pionir dalam diskusi ini.