News
Dari Senapan Mesin ke Parlemen: Kisah Mantan Kombatan GAM di Aceh Utara
1 hari yang lalu
Hanafiah, yang lebih dikenal dengan julukan Arsyah, adalah mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang kini menjabat sebagai Ketua Komisi III DPRK Aceh Utara. Ia pernah memimpin 800 pasukan dan terlibat dalam berbagai operasi gerilya selama konflik di Aceh. Pasca konflik, ia memilih jalur politik sebagai bentuk pengabdian lanjutan.
Hanafiah lahir di Tanah Luas pada Oktober 1976 dan pernah merantau ke Malaysia sebelum kembali ke Aceh untuk bergabung dengan GAM. Ia pernah tergabung dalam Pasukan Piranha dan menjabat sebagai Ulee Kompi, serta mengelola keuangan wilayah III Tgk Chik Paya Bakong. Saat ini, ia juga menempuh pendidikan S1 di Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim, Bireuen.
Perjalanan dari Medan Konflik ke Parlemen
- Julukan Arsyah: Dikenal karena keberaniannya memegang senapan mesin ringan selama operasi gerilya di Rimba Pase.
- Karier di GAM: Pernah menjadi pelatih bagi anggota GAM di Universitas Abeuk Supat dan berinteraksi dengan tokoh penting GAM seperti Muzakir Manaf dan Sofyan Dawood.
- Pasca Konflik: Bergabung dengan Partai Aceh dan dipercaya menjadi Ketua Komisi III DPRK Aceh Utara yang membidangi keuangan, aset, dan sektor strategis seperti migas.
- Pendidikan: Saat ini menempuh pendidikan S1 di Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim, Bireuen.
Hanafiah melihat perpindahan dari medan konflik ke parlemen sebagai kelanjutan perjuangan dengan cara berbeda. Ia berkomitmen untuk meningkatkan kapasitas diri dan memperjuangkan kebijakan yang bermanfaat bagi masyarakat Aceh.
