News
Jembatan Ambruk di Bireuen, Siswa dan Guru Naik Boat ke Sekolah
2 jam yang lalu
Sejak jembatan rangka baja yang menghubungkan Ulee Jalan–Suak di Kecamatan Peusangan Selatan, Bireuen ambruk akibat banjir besar pada akhir November 2025 lalu, kehidupan masyarakat di kawasan itu berubah drastis. Jembatan yang selama ini menjadi akses vital kini hanya tersisa puing, sehingga satu-satunya penghubung antar desa hanyalah rakit sederhana atau boat ketek.
Setiap hari, ratusan warga dari belasan desa harus menyeberangi sungai menggunakan rakit, mulai dari petani, pedagang, pelajar hingga guru. Aktivitas ini menjadi rutinitas yang penuh tantangan, terutama di pagi hari ketika para siswa bergegas menuju sekolah.
Dampak Terhadap Pelajar
- Puluhan siswa dari SMPN 1 Peusangan Selatan, SMAN 1 Peusangan Selatan, MAN 3 Bireuen, dan sekolah lainnya harus menyeberang sungai setiap hari.
- Waktu tempuh sekitar 5 hingga 10 menit, tergantung kondisi air.
- Biaya penyeberangan sebesar Rp10.000 untuk satu kendaraan dan biaya sukarela untuk penumpang.
Tantangan Harian
- Kondisi sungai yang dangkal dan arus deras sering membuat boat tersendat.
- Operator boat harus turun ke sungai untuk mendorong rakit agar bisa merapat dengan aman.
- Aktivitas penyeberangan dimulai sejak pukul 04.00 WIB subuh, dengan prioritas utama bagi para siswa agar tidak terlambat ke sekolah.
Harapan Masyarakat
- Masyarakat berharap adanya solusi jangka panjang untuk masalah infrastruktur ini.
- Biaya harian yang cukup membebani warga, terutama bagi masyarakat kecil.
- Kesulitan tambahan ketika hujan turun di pegunungan dan arus sungai semakin deras.
