Timeline Aceh
serambinews.com
serambinews.com

Meugang Idulfitri di Tengah Bencana: Warga Bireuen Hadapi Tradisi dengan Ekonomi Terpuruk

3 jam yang lalu

Tradisi meugang atau makmeugang di Aceh merupakan warisan budaya sejak masa Kesultanan Aceh Darussalam. Setiap tahun, masyarakat Bireuen merayakannya dengan semangat, namun tahun ini berbeda. Bencana banjir dan lumpur yang melanda Aceh pada November 2025 meninggalkan dampak ekonomi yang berat bagi warga.

Di Matangglumpang Dua, Kecamatan Peusangan, suasana meugang Idulfitri terasa sepi. Pembeli daging tidak seramai tahun-tahun sebelumnya karena banyak warga yang masih berjuang memulihkan kehidupan pascabencana. Harga daging yang mencapai Rp160.000 hingga Rp180.000 per kilogram juga menjadi beban tambahan bagi masyarakat yang kehilangan mata pencaharian.

Dampak Bencana terhadap Tradisi

  • Ekonomi Terpuruk: Banyak warga kehilangan lahan pertanian, kebun, dan tambak, membuat mereka kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.
  • Bantuan Terbatas: Meskipun beberapa desa menerima bantuan daging dari pemerintah, tidak semua warga terdampak bencana mendapatkan bantuan tersebut.
  • Perubahan Perilaku: Bencana telah mengubah perilaku masyarakat, termasuk dalam hal berlalu lintas yang menjadi lebih tertib dan saling menghargai.

Semangat Keislaman Tetap Kuat

Meskipun menghadapi kesulitan, semangat keislaman tetap terjaga. Kaum ibu terus mengarahkan anak-anaknya untuk mengaji di meunasah atau rumah-rumah darurat. Kegiatan ini menunjukkan bahwa gairah keislaman tetap melekat dalam jiwa masyarakat Aceh, meskipun mereka sedang bersedih.

Tradisi meugang tahun ini menjadi pengingat akan ketahanan dan kebersamaan masyarakat Aceh dalam menghadapi cobaan. Meskipun rasa daging yang dimasak mungkin berbeda, semangat untuk tetap bersyukur dan beribadah tetap kuat.

Meugang Idulfitri di Tengah Bencana: Warga Bireuen Hadapi Tradisi dengan Ekonomi Terpuruk