News
Nyak Sandang Wafat: Pejuang Aceh yang Relakan Emas Istri untuk Pesawat Kemerdekaan
4 jam yang lalu
Langit Aceh Jaya berduka. Nyak Sandang, tokoh yang menggerakkan pengumpulan emas warga untuk membeli pesawat Seulawah, wafat pada Selasa (7/4). Beliau adalah representasi semangat 'Aceh Meugoe', pengorbanan tanpa pamrih demi kemerdekaan Indonesia.
Pada 1948-1949, Nyak Sandang dan rekan-rekannya berkeliling dari rumah ke rumah di Gampong Lhuet, Lamno. Mereka mengumpulkan emas perhiasan istri-istri warga, bahkan ternak satu-satunya yang dimiliki. Emas tersebut dilebur dan dikirim ke Jawa untuk membeli pesawat Dakota RI-001 Seulawah.
Semangat Gotong Royong yang Terlupakan
- Pengorbanan Warga: Wanita-wanita Aceh melepaskan perhiasan terakhir mereka dengan air mata haru dan iman yang membaja.
- Modal Sosial: Dulu, rakyat Lamno bergerak serentak karena percaya pada pemimpin dan cinta tanah air, tanpa paksaan regulasi atau sanksi denda.
- Kebijakan Publik: Kisah Nyak Sandang mengajarkan bahwa kebijakan publik yang hebat bukan tentang besarnya anggaran, melainkan kuatnya partisipasi dan kepercayaan rakyat.
Utang Sejarah yang Belum Lunas
- Pengakuan Formal: Pemerintah Aceh diingatkan untuk mengintegrasikan narasi peran spesifik Gampong Lhuet dan tokoh-tokohnya ke dalam kurikulum pendidikan lokal.
- Revitalisasi Monumen: Monumen atau museum kecil di Lamno perlu direvitalisasi sebagai pusat inspirasi bagi generasi milenial dan Gen-Z.
- Pemberdayaan Ekonomi: Tantangan saat ini adalah bagaimana memberdayakan ekonomi umat di pelosok Jaya dan Aceh Jaya lainnya dengan semangat gotong royong ala Nyak Sandang.
Nyak Sandang kini telah tiada, tetapi rohnya akan tetap terbang bersama pesawat-pesawat yang melintas di atas Aceh. Beliau pergi dengan tenang, mungkin sambil tersenyum mengingat masa-masa indah saat rakyat bersatu padu menyerahkan harta demi kemerdekaan.
